Dunia saya di Jakarta sejak 33 tahun yang lalu, adalah training, formal atau non formal, yang duniawi atau rohani, Masjid atau Gereja, instansi atau santri, ABRI atau PADRI, tokoh umat atau rakyat biasa, dengan moda aneka rupa, baik workshop, seminar, retreat, rekoleksi, teambuilding, parenting .
Saya tidak pernah ingin diakui agar terus dipakai. Saya hanya ingin ‘berguna’ dan ‘berkesan’.
Untuk itu, saya kuras sampai tuntas, kuberikan apa pun yang saya punya, sampai saya lupa apa yang sudah kuberikan.
Iya. Tidak mencari pengakuan. Sebab sekali dapat, kita akan terus meminta lebih akan terus memburu semua pengakuan dari semua. Jika tidak kuat kendali dirinya, bisa menghalalkan semua cara untuk mendapatkannya. Itu adalah kejahatan, seperti yang dilakukan Daud (2 Sam 12: 1-12).
“Orang kaya merampas hak orang miskin, karena haus diakui.”
Salam sehat.
…
Jlitheng

