Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kata-kata yang tidak dipertanggungjawabkan
dapat meracuni hati”
(Didaktika Hidup Berkomunikasi)
Etika dalam Berbahasa
“Mulutmu, harimaumu,” adalah idiom bermakna, bagaimana idealnya kita beretika saat berbahasa. Bahwa kata-kata yang diucapkan secara serampangan, akhirnya dapat berbalik dan memangsa diri sendiri. Itulah apesnya kita, jika suka bergunjing. Hal ini ibarat senjata makan tuan.
Saya teringat nasihat paling arif dari sang bijaksanawan, tatkala seorang yang suka bergunjing datang meminta bimbingan kepadanya.
Gunjinganmu itu akan Terbang
“Pergilah engkau di sepanjang jalan sambil merontokkan bulu-bulu ayam hingga bersih dan setelah itu kembalilah kepada saya.”
Setelah ia kembali, maka bertanyalah sang bijaksanawan itu, “Apa yang engkau lihat, saat engkau melepaskan bulu-bulu ayam itu?”
“Tuanku, ternyata bulu-bulu ayam itu segera berterbangan ke mana-mana sesuai arah angin.”
“Nah, demikian pula betapa cepat dan mudahnya tersebar pergunjinganmu,” sahut sang bijaksanawan itu.
Kisah Winston Churchill
Ketika ia memasuki ruangan pertemuan resmi, dua orang pejabat yang duduk tiga deret kursi di belakangnya itu berbisik.
“Itu Churchill. Beredar isu, bahwa dia sedang sakit parah,” kata salah seorang dari mereka.
Yang seorang pun menjawab, “Ya, saya pun mendengar. Bahkan dia tidak saja sakit parah, namun juga kian uzur.”
Seusai pertemuan, Churchill meninggalkan kursinya dan berhenti sejenak, sambil mencondongkan tubuhnya ke arah mereka yang bergunjing tentangnya, “Orang juga bilang, bahwa dia juga hampir tuli.”
Sungguh, betapa malunya kedua pejabat negara itu.
(Crumbley)
1500 Cerita Bermakna
Pergunjingan itu bagaikan Racun
Kita semua telah sama-sama tahu, bahwa pergunjingan itu adalah bentuk tuturan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Mengapa? Bukankah itu berupa sebaran isu negatif yang belum terbukti kebenarannya?
Makna aktus pergunjingan, dapat dikategorikan sebagai sebentuk tindakan memfitnah alias menggosipi orang yang tidak kita ketahui tingkat kebenarannya. Jadi, dalam konteks ini, kita telah menyebarkan sebuah kabar bohong tentang seseorang. Itulah sebentuk tindakan beracun.
Konklusi
Mari segera akhiri kebiasaan menggosipi orang atas dasar dan alasan apa pun. Bukankah di saat itu, ia yang sedang kita gosipi, justru tidak dapat membela dirinya, bukan?
Jika demikian, sungguh, betapa busuknya mulut bocor kita.
…
Kediri, 23 Maret 2025

