Kita sering mendengar cerita tentang umat Katolik yang menolak, ketika diminta memimpin doa atau ibadah, apalagi jadi pelayan liturgi dan atau pimpinan umat. Alasan yang sering muncul adalah tidak tahu, tidak biasa, dan tidak pernah belajar atau kursus teologi, liturgi dan kepemimpinan gerejawi. Namun demikian, ada juga kisah tentang orang-orang tertentu, ketika ditunjuk untuk tugas gerejani benar-benar tidak tahu apa-apa, tapi memiliki hati untuk melayani Tuhan dan Gereja dengan penuh ketulusan, karena itu mereka cepat belajar dan justru lebih banyak didengarkan umat.
Berefleksi dari pengalaman perutusan Rasul Petrus, kita sepakat untuk mengatakan, bahwa ukuran segala sesuatu bagi Yesus, bukanlah ijazah, gelar, kecakapan, dan kemampuan akademis, melainkan cinta kasih. Ketika Yesus hendak meminta Petrus menggembalakan domba-domba-Nya, la tidak mempertanyakan kecakapan dan kemampuan managemen seorang Simon Petrus, tapi: “Simon anak Yohanes, Apakah engkau mengasihi Aku?” Kasih jadi ukuran. Karena itu, Yesus bukan pertama-tama mengutus Petrus untuk menggembalakan domba, tapi membalas kasih Yesus kepadanya, sebagaimana jawabannya kepada Yesus, “Engkau tahu Tuhan, betapa aku mengasihi Engkau.”
Dengan hati penuh cinta, Petrus menggembalakan domba-domba-Nya. la bukan orang terpelajar seperti Paulus. la hanya seorang nelayan biasa. la bukan orator hebat, ahli managemen, dan tata kelola organisasi. Melainkan, ia mampu jadi rasul yang berkobar-kobar dalam mewartakan Kristus. Kita semua dipanggil melayani seperti Petrus. Ukuran utamanya adalah kasih, bukan kemampuan dan keahlian, apalagi kualifikasi ijazah dan gelar akademis. Marilah kita melayani Tuhan dengan tulus dan penuh kasih.
“Tuhan, kuatkanlah kami untuk melayani Engkau dengan tulus dan penuh cinta kasih. Amin.”
…
Ziarah Batin

