“Setiap kali kita berdoa “Bapa Kami,” Surga mendekat dan hati kita belajar berdetak selaras dengan hati-Nya.”
Yesus mengajar kami cara berdoa. Ia memberikan kepada kami doa yang paling sempurna: “Doa Bapa Kami.”
Sebelum mengajarkannya, Yesus meluruskan cara pandang kami tentang doa. Ada yang berdoa, supaya dilihat orang. Ada yang mengira, bahwa makin panjang doanya, kian didengar. Namun Yesus menyatakan kebenaran yang membebaskan: Allah sudah mengetahui kebutuhan kami. Doa bukan untuk meyakinkan Allah, tapi untuk bersatu dengan-Nya.
Melalui Kitab Yesaya, Allah berkata bahwa firman-Nya turun seperti hujan dan salju dan tidak pernah kembali dengan sia-sia. Setiap kali kami mengucapkan Bapa Kami dengan iman, Allah sedang berkarya. Dalam semangat Pemazmur, kami percaya: ketika orang yang tertindas berseru, Allah dekat dan menyelamatkan.
Ketika kami berkata, “Bapa Kami,” kami masuk ke dalam relasi Yesus sendiri dengan Allah. Kami tidak berdoa sendirian; kami berdoa bersama Dia, di dalam Dia.
“Dikuduskanlah nama-Mu.”
Tata ulanglah prioritas kami, ya Bapa. Jangan biarkan pekerjaan, ambisi, atau pengakuan manusia lebih utama daripada Engkau.
“Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Surga.”
Doa ini bukan sikap pasif menunggu. Tapi juga bukan usaha keras tanpa Engkau. Seperti seorang Bapa yang mengajak anaknya membangun sesuatu bersama, Engkau sudah memulai pembaruan dunia dan Engkau mengundang kami untuk ikut ambil bagian. Ketika kami berdoa untuk damai, mungkin Engkau mengajari kami mengalah demi kasih. Ketika kami berdoa untuk pembaruan Gereja, mungkin Engkau memberi keberanian untuk bersaksi tentang pengharapan yang kami miliki.
Doa perlahan menyelaraskan kehendak kami dengan kehendak-Mu. Ia membentuk cara kami berpikir. Ia mengajar kami mencintai apa yang Engkau cintai.
“Berilah kami rezeki pada hari ini.”
Ajari kami percaya dalam kecukupan, dan juga cukup untuk berbagi.
“Ampunilah kami… seperti kami pun mengampuni.”
Jangan biarkan rahmat berhenti di hati kami. Biarlah belas kasih itu mengalir melalui kami.
“Jangan masukkan kami ke dalam pencobaan, tapi bebaskanlah kami dari yang jahat.”
Kami tahu ujian akan datang. Tapi seperti Pemazmur berkata, Engkau dekat dengan orang yang remuk hati. Engkau adalah perlindungan kami.
Bapa, ketika kami mendoakan doa yang Yesus ajarkan, bentuklah hati kami. Bangunlah kerajaan-Mu di dalam kami. Ajarilah kami berseru dengan sukacita: “Aku suka melakukan kehendak-Mu.”
Bersama Yesus, Raja Kerahiman Ilahi, kami aman selalu. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

