Sewaktu guru menyuruhku menyanyikan lagu bebas di depan kelas, kupilih lagu “Desaku” dengan warna suaraku yang cempreng. Hampir semua teman sekelas menutup mulut menahan tawa. Hanya kamu satu-satunya yang bertepuk tangan sambil berdiri dengan wajah berbinar.
Sejak itu tiap hari kunyanyikan lagu itu hingga terasa suaraku paling merdu.
Begitulah darasan ‘doaku’. Kulagukan tiap pagi seperti lagu ‘Desaku’ dengan semerdu yang kubisa. Cemprèng mungkin, tidak apa. Tuhan akan selalu bertepuk untukku.
Tuhan, terima kasih untuk hari ini. Aku mohon Engkau membimbing jalanku lebih khusus lagi, baik pikiran, perkataan, dan tindakanku.
Mohon berkenan mendampingiku sepanjang hari ini dan bantulah menavigasi apa pun yang menghadangku. Terpenting, bantulah untuk menjalani hidupku dengan cara yang memuliakan-Mu.
Salam sehat.
…
Jlitheng

