“Menilai orang itu tidak dari masa lalunya yang kelam, tapi tentang perubahan hidupnya yang makin baik.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Saya tersenyum geli, dan tidak mau komentar, ketika A dan B beradu argumen dengan perubahan sikap DM. Tapi pada dasarnya mereka ragu, bahkan tidak percaya.
“Ndak usah sewot. Lebih baik yang lalu itu untuk dilupakan. Didoakan saja, supaya dia sadar dan insyaf,” kata saya enteng. Apa saya ragu seperti mereka?
Tidak! Saya tidak meragukan DM atau orang lain yang sadar, insyaf, dan ingin berubah untuk perbaiki diri jadi baik. Bahkan saya sangat mendukung niat itu.
Untuk meninggalkan masa lalu itu berproses, membutuhkan waktu, dan bukti. Tidak sekadar berkata-kata, tapi lewat perilaku yang teruji.
Saya telah melupakan DM yang pernah membohongi saya. Jika dia jujur dan terus terang, saya dengan senang hati membantunya.
DM melakukan hal yang sama pada B. Sehingga B menyalahkan saya, karena dianggap tidak mau mengingatkannya. Padahal B tidak pernah cerita, dan saya tidak tahu bisnis mereka. Saya juga malas bergosip hal buruk dan negatif, karena bakal mencemari pikiran. Apalagi berita yang sekadar asumsi, jarene, dan tidak jelas sumbernya.
“Karena hutangmu dibayar, sedang pada B, tidak …,” kata A hati-hati.
“Tidak juga, tapi saya ikhlas. Yang penting kita sudah tahu agar kita berhati-hati pada DM. Bagi saya, maaf, seburuk-buruknya DM, dia teman kita yang harus diiingatkan, didukung, dan dikuatkan agar dia sadar. Anggap saja, kemarin dia khilaf.”
A mengiyakan sambil memandang B yang sedang mematut-matut dagunya.
“Kita lihat DM mulai berubah dan rajin ibadah. Lebih bijak kita kawal agar demokrasi itu tidak salah arah, karena diselewengkan,” gurau saya.
Suasana kaku itu lalu berubah jadi ger-geran.
Semangat perubahan itu butuh bukti agar teruji!
…
Mas Redjo

