Red-Joss.com – Lho…?! Ya, tidak seperti itu. Apa pun masalahnya, anak itu darah daging sendiri. Sejelek-jeleknya anak, itu juga anak sendiri. Tidak seharusnya kita keras hati, sehingga tidak mau memaafkan, dan berdamai dengan anak sendiri.
Coba direnungkan. Mengapa anak kita sekeras itu?
Tiba-tiba sebongkah kesadaran menggelundung ke telaga hati wanita baya itu, membuat ia jadi kaget, gelagapan, dan nelongso.
Diamatinya suaminya yang tergolek sakit, dan tidak berdaya. Dadanya menyesak, dan terasa ngilu sekali.
Suami tercinta memintanya untuk mencarikan anak lelakinya, BJ yang tidak tahu rimbanya!
Keras Hati, Menyesal sendiri
BJ kabur, meninggalkan rumah, karena gadis pilihan yang ingin dinikahi itu tidak disetujui Ayahnya.
Suaminya marah hebat, karena BJ memberi tahu ingin menikah secara sepihak dan mendadak. Alasan BJ, Ayahnya selalu menuntut banyak kriteria pada calon menantu, sehingga BJ berontak dan kabur.
Suaminya shock hingga sakit. BJ dikabari, mau menengok Ayahnya. Tapi tidak mengurungkan niatnya, karena tetap keukeh untuk menikahi gadis itu.
BJ keras kepala, karena Ayahnya sering memaksakan kehendak sendiri.
Sebagai istri dan Ibu bagi anak-anak, ia juga shock dan terjepit
dengan sikap suami dan BJ yang sama-sama keras kepala dan keras hati itu.
Penyesalan Itu Jangan Terlambat
Diamatinya suaminya yang makin lemah dan kurus. Hatinya sedih.
Sejak semula ia telah mengingatkan suaminya untuk tidak bersikap keras dalam mendidik anak-anak, apalagi masalah jodoh.
Sebagai orangtua kita berhak memberi saran, usul, dan mengingatkan anak, jika anak salah langkah. Tapi pilihan dan keputusan itu sepenuhnya pada anak. Sebab mereka yang bakal menjalani hidup berumah tangga. Orangtua hanya merestui dan mendoakan demi kebahagiaan anak.
Kini, keberadaan BJ tidak diketahui. Nomor hpnya ganti. BJ juga pindah pekerjaan, dan teman sekantornya tidak ada yang tahu ke mana BJ pindah. Bahkan teman dekat BJ yang lain juga tidak mengetahui keberadaannya!
Sekali lagi dihelanya nafas panjang, karena sedih melihat keadaan suami yang makin melemah itu. Lalu digenggamnya jari suaminya. Ia takut membayangkan hal buruk terjadi pada suaminya.
Ia berharap, sangat berharap sekali pada anak-anaknya atau teman BJ yang memberi tahu keberadaan dan alamat BJ. Ia akan mendatangi BJ dan memintakan maaf untuk suaminya…
…
Mas Redjo

