“Sehebat-hebatnya manusia, hanya yang berguna bagi sesama itu yang tercatat selamanya. Selebihnya hanya asesoris.” – Jlitheng
…
Perbuatan buruk dan jelek itu dari si jahat. Tapi perbuatan baik, sekecil apa pun itu berarti kita mewujudkan kehendak Tuhan.
Seperti yang terjadi Minggu sore ini, ketika mendung menggantung di atas Ciledug, sesekali ditingkahi bunyi gluduk. Tidak lama, hujan gerimis dan angin berhembus kencang. Cuaca tidak bersahabat, dan udara makin dingin.
“Tidak masalah, absen dulu ke Gereja, Tuhan juga maklum, karena hujan,” kata lembut si jahat, merayu saya.
Angin dingin berhembus menerpa wajah. Saya menarik nafas panjang sambil memandang tetesan hujan di halaman. Meski udara dingin, tapi imanku tidak boleh jadi dingin untuk ke Gereja, tekadku.
“Nah, benar kan. Anakmu juga tidak jadi mengantar, karena ada acara. Lebih baik temani istri yang sedang sakit itu. Mendingan di rumah,” kata si jahat makin gencar merayu.
Tujuan si jahat itu kesannya baik, peduli, dan perhatian. Menemani istri yang sakit, hujan, dan sesekali tidak ke Gereja itu tak jadi masalah. Tuhan maklum, memahami, dan yang lebih penting adalah hati ini baik. Menunggui istri yang sedang sakit itu juga ibadah.
Jujur, sebenarnya saya kecewa, karena anak tidak mau mengantar. Membatalkan sepihak dan secara tiba-tiba. Karena mau mengantar doinya. Tujuan berlawanan arah, hujan, dan Minggu sore jalanan di Ciledug itu macet. Saya diam tidak mau memaksakan kehendak, meski anak salah. Bagi saya permintaan maaf dari anak itu lebih dari cukup.
Saya juga menghindari berdebat, konflik, dan berkata keras, karena hal itu datang dari si jahat.
Ketimbang uring-uringan emosi, lebih baik saya berkata dengan lembut dan rela mengalah.
“Ya, sudah, tolong panggilkan grab saja,” kata saya sambil memakai sepatu.
Meski istri mengomel, karena hujan. Tapi saya segera menengahi. Toh saya bisa menggunakan payung.
Saya juga tidak menunda waktu lagi. Lebih baik datang ke Gereja itu lebih awal, ketimbang terlambat tanpa persiapan batin.
Ke Gereja adalah kerinduan hati. Kita bersatu dalam sakramentali dengan tubuh Kristus itu anugerah luar biasa. Jiwa kita dikenyangkan dan tidak haus lagi.
Sejatinya, hidup kita adalah saluran berkat Tuhan!
…
Mas Redjo

