“Tidak ada gunanya berkonflik. Jika teman merasa benar, lebih baik kita mengalah untuk meminta maaf.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | “Semoga bahagia,” adalah doa ikhlas agar mereka yang merasa benar itu dijamah Tuhan untuk sadar diri dan rendah hati.
Tidak sekali dua pengalaman pahit itu saya alami. Hal itu selalu saya syukuri, karena percaya, bahwa Tuhan selalu memberi yang terbaik.
Seperti belum lama ini terjadi. Saya dikomplain pelanggan lama. Orderan cetak plastik itu ditolak dan dikembalikan. Alasannya, plastik itu tidak ada PIRT (Izin Pangan Industri Rumah Tangga). Padahal dicetak ulang, dan tidak ada keterangan perubahan. Pelanggan itu minta ditambahi tulisan nomor PIRT, dan biaya sablon manual plastik sebanyak 1 ton itu jadi tanggungan saya!
Karena disalahkan dan pelanggan ngotot menang sendiri, akhirnya saya mengalah untuk menanggung rugi keseluruhan. Saya minta maaf, dan tidak sanggup untuk melayani orderannya lagi, alias putus hubungan.
Dari teman pelanggan itu, saya memperoleh info, ternyata dia terkena razia, dan tersangkut 2 kasus. Produk makanannya dicampur formalin dan tidak mempunyai izin PIRT!
Jadi saya disalahkan, karena imbas dari kasus pelanggaran pelanggan itu!
Dengan memaafkan mereka yang bersalah dan doa ikhlas itu ternyata membuat hati ini jadi lega, nyaman, dan damai.
Saya percaya hukum tabur tuai. Ketika mempersulit orang lain, kita persulit dan menutup rezeki sendiri. Sebaliknya dengan mendulukan dan permudah kepentingan orang lain, kita membuka pintu rezeki dan anugerah Tuhan.
Saya sudah melihat banyak bukti. Orang tidak jujur dan berbuat curang yang berakibat buruk pada diri sendiri dan anggota keluarga lain yang tidak tahu perbuatan dari pasangan atau orangtuanya.
Terngiang jelas nasihat bijak dari seorang penggiat eco enzym yang biasa memulung limbah buah-buah di pasar.
Sesungguhnya, buah-buahan yang dibuang dari toko buah itu masih layak makan, karena kulitnya layu dan kisut. Pertanyaannya, apa kita tega menjual sampah itu pada orang lain, lalu untuk menghidupi keluarga?
Dengan mengalah dan mendulukan kepentingan orang lain, sejatinya saya ditempa jadi pribadi yang tabah, sabar, dan rendah hati.
Saya termotivasi teladan Tuhan Yesus yang rela berkorban untuk umat-Nya dan demi melaksanakan kehendak Bapa. Tuhan Yesus seperti domba yang dibawa ke pembantaian (Kisah Para Rasul 8: 32).
Dengan mengalah, memahami, dan mengasihi orang lain berarti kita telah mengalahkan ego sendiri.
…
Mas Redjo

