Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Lain padang, lain belalang, lain lubuk, lain ikan.”
(Peribahasa bangsa)
| Red-Joss.com | Di dalam bidang ilmu pengetahuan, kita mengenal berbagai “teori kepribadian” di dalam bidang ilmu psikologi.
Mungkin, Anda pun masih ingat tipe pribadi ‘introvert’ dan tipe pribadi ‘ekstrovert’.
Mengapa di dalam hidup ini kita perlu mengenal keunikan karakter sesama? Kita perlu mengenal serta mengetahui aneka perbedaan itu, agar kita dapat memahami serta menghargainya.
Dari aspek pemahaman itu, maka akan melahirkan sikap menerima, bahwa ternyata, karakter kita, memang berbeda.
Tulisan ini, bertujuan mengenalkan “empat tipe karakter sang manusia” berdasarkan penemuan sang filsuf Yunani Kuno, Hippocrates (460-370 SM). Kelak, penemuan ini disempurnakan oleh Galenus. Sehingga, teori ini kemudian disebut, Hippocrates Galenus, 400 tahun sebelum Kristus.
Adapun teori ini didasarkan atas struktur cairan (humor), Latin di dalam tubuh manusia.
(1) Karakter Sanguinis.
Tipe kepribadian manusia, yang sangat responsif, berbelas kasih, banyak berbicara, ramah, serta antusias. Inilah pribadi yang sangat unik. Dia pun cepat bercinta, tetapi juga cepat lupa, dan terkesan kekanak-kanakan.
(2) Karakter Melankolis. Tipe kepribadian yang sangat halus serta perasa. Dialah sang perfeksionis, sangat berbakat, berdisiplin, rela berkorban, dan memiliki kemampuan untuk menganalisis.
(3) Karakter Kholerik. Tipe kepribadian ini, bervisi serba praktis, produktif, tegas, serta berbakat pemimpin. Dialah sang independen sejati.
(4) Karakter Flegmatik. Tipe kepribadian ini, sangat tenang, objektif, efisien, terkesan tidak peduli, dan lamban.
Setelah kita mengetahui keempat karakter dengan segudang keunikannya, kini kita pun sadar dan memahami perbedaan-
perbedaan itu.
Sesungguhnya perbedaan itu indah. Tujuannya agar kita, sang manusia ini, mau saling melengkapi di dalam hidup bermasyarakat.
Maka, marilah kita hadapi si masa bodoh serta si lamban ini dengan hati yang lapang. Hadapi si tukang pamer dengan mulut berbusa, karena terus mengoceh ini, dengan ikhlas berlapang dada. Hadapi juga si sentimental yang serba perfeksionis itu dengan sabar, meski dahi ini berkerut. Jangan abaikan, tapi hadapi juga, si independen yang serba terukur dan bervisi besar ini, walau hidup ini mungkin terasa kering dan kaku.
Sesungguhnya perbedaan adalah kesempurnaan. Yakinlah, jika semua keunikan itu dipadukan, akan tampak, betapa luhur serta agungnya Sang Tuhan, Pencipta keanekaragaman itu.
Maka, saudara, sekali lagi aku serukan, bahwa sungguh, perbedaan itu, ternyata sangat indah!
…
Kediri, 23 Mei 2023

