| Red-Joss.com | Bermula dari bincang ringan seputar karunia Roh Allah dalam suatu komunitas. Berujung pada pertanyaan seorang Ibu tentang cara mendampingi ke 3 anaknya yang lahir istimewa, ketiganya kalung usus.
“Saya ingin agar anak-anak saya kelak memiliki kemampuan untuk berbakti dalam senyap,” ujarnya.
Ya, muara dari karunia Roh Allah adalah kemampuan untuk berbakti dalam senyap, seperti yang ditampakkan oleh banyak sosok pengabdi, dari yang senja usia sampai yang muda.
Menjadi pribadi yang mampu berbakti dalam senyap, atau ‘silent hero’(es), harus ditumbuhkan sejak dini, dengan keteladanan yang lebih daripada kata-kata, oleh kedua orangtuanya.
Peristiwa pandemi covid-19 melahirkan banyak ‘silent hero’(es), yang mampu berbakti dalam senyap sampai akhir, seperti yang ditampilkan oleh Ninuk.
“Saya hidup untuk orang yang saya sayangi. Saya mati untuk orang dan apa yang saya sayangi, termasuk profesi saya,” kata-kata terakhir Ninuk sebelum ajalnya.
Ninuk, perawat RSCM Jakarta, sebelum menghembuskan nafas terakhir, dengan nada terbata-bata, menyampaikan kalimat itu kepada Arul, suaminya. Lalu Arul, mendekap anak gadisnya yang tiada henti menangisi kepergian Ibunya. “Mamamu, pahlawan Nak. Kita bersyukur punya Mama seperti dia. Berbakti dalam senyap sampai akhir hayat.”
…
Dia, Ninuk, satu di antara ratusan “silent hero’(es) di seantero bumi – – yang di awal masa pandemi, meregang nyawa oleh loyalitas mereka pada profesi. Bertaruh asa dalam dedikasinya demi kemanusiaan. Mereka ada di garda depan menghadapi ganasnya Covid-19. Mereka hanyalah orang biasa, bukan siapa-siapa, tapi kepergian mereka sungguh ditangisi, dan diakuii — setidaknya di mata keluarganya sendiri sebagai ‘silent hero’. Seperti disampaikan Arul, suami Ninuk, kepada anak gadisnya.
Saya yakin, Ninuk lahir dari keluarga shekinah, tumbuh dalam cinta dan binaan Ayah Ibu yang banyak baktinya dalam senyap, sehingga di akhir hayatnya mampu mengatakan:
”Saya hidup untuk orang yang saya sayangi. Saya mati untuk orang dan apa yang saya sayangi, termasuk profesi saya.”
“Karena engkau telah melakukan hal-hal baik untuk sesamamu, kini masuklah dalam damai abadi bersama-Ku”.
Salam sehat dan tak henti berbagi cahaya, untuk saling meneguhkan.
…
Jlitheng

