Dalam heningnya pikir dan hati, tanpa ragu saya amini, bahwa “kita ini bukan Tuhan yang bisa mengendalikan segalanya.” Dengan kesadaran itu sudah cukup untuk berhenti berupaya kendalikan segala hal dalam kehidupan ini.
Kita hidup di dunia yang makin kompleks dan sulit untuk menemukan jawaban atas semua problem yang kita hadapi.
Kapan bisa berbahagia, jika terus terkurung oleh ambisi dapat menyelesaikan segala perkara?
Berbahagialah yang miskin di hadapan Allah.
Orang miskin yang bahagia itu bagaikan sebuah pohon yang tumbuh di tepian air, batangnya kuat, akarnya sangat dalam, daunnya rindang, tidak pernah menolak memberi keteduhan, walau batangnya sering dilukai, rantingnya dipatahkan, daunnya dirampas, dan buah-buahnya dinikmati.
Begitulah yang berbahagia.
Salam sehat.
…
Jlitheng

