Red-Joss.com | “Memento mori,” siapa pun kita pasti mati juga.
Ada ungkapan menarik berkaitan dengan kematian itu:
“Kenang-kenangan dari masa lampau tidak ada, dan dari masa depan yang masih akan datang pun tak akan ada kenang-kenangan pada mereka yang hidup sesudahnya…”
Ada! Kenangan itu terpahat sangat dalam pada dinding hati ini, sehingga tak ada apa pun yang dapat menghapusnya.
Berupa dialog terakhir antara Bapak dan Simbok, saat Bapak tampak masih berat meninggalkan kami.
Tak ada tangis dan peluk perpisahan. Dengan suara datar Simbok mengatakan: “wis ndisiko, ning ojo suwe-suwe, enggal pethuken aku.” Dijawab oleh bapak dengan ‘menutup mata selamanya’.
Saya telah menjadi saksi mata peristiwa kepergian Bapakku pada saat itu. Inilah beberapa pesan tanpa kata yang saya catat:
- Bapak tidak membawa apa pun
- Tubuhnya juga tidak.
- Hanya Rosario di tangannya
- Nama Thomas tertulis di salibnya
- Dan cinta simbok di hatinya
Sebagai anaknya, saya percaya, bahwa sebagai orang Katolik Bapakku pasti disambut Santo Thomas, pelindungnya, sebab :
- Bapakku Katolik yang setia
- Rajin beribadat dan berdoa
- Berteman dengan siapa saja
- Berbagi dari apa yang dimilikinya
- Bekerja keras itulah hidupnya
- Tawakal sabar di hari tuanya
- Sebab urip mung mampir ngombe
Jika demikian, tak berguna ‘menimbun harta dan abai pada sesama’. Sebab tak satu pun akan dibawa dan dapat menyelamatkan jiwamu, kecuali: “engkau bermurah hati pada sesama selama hidupmu di bumi ini.”
… seperti Bapakku kala itu, menutup mata dengan tenang, sebab Bapak merasakan, jika Simbok, istrinya dan kami, anak-anaknya menggenggamkan ‘cinta, bukan harta’, di akhir hayatnya.
Tiada jemu berbagi cahaya.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

