| Red-Joss.com | Tidak ada gunanya menyalahkan orang yang bersalah, lebih baik mengoreksinya. Tidak ada gunanya menghakimi, lebih baik mengasihi dan mendoakan mereka agar sadar diri.
Apa pun yang diperdebatkan itu hanya membuang waktu dan energi. Jika salah persepsi mampu timbulkan konflik, permusuhan, dan dendam. Lebih baik kita bertukar pikiran dan jauhkan emosi.
Dengan berbagi, kita saling mengisi, melengkapi dan meneguhkan jiwa agar kita menjadi rendah hati.
Hidup yang sesungguhnya itu amat sederhana. Yang rumit dan sulit itu karena kita dipenjara oleh gengsi dan ego sendiri.
Coba dan utamakan untuk selalu kedepankan kasih dalam segala situasi dan kondisi.
Adakah konflik itu muncul? Emosi itu merajai hati?
Apakah mengalah itu tanda lemah, lembek, tiada daya, dan cermin dari ketidakberdayaan?
Sesungguhnya dengan kedepankan kasih, tidak ada persoalan yang tak terpecahkan dan teratasi.
Jangan bilang orang yang sukses kedepankan kasih itu hati nuraninya mati atau bahkan tidak mempunyai hati. Sehingga hilang perasaannya?
O, tidak. Orang sukses kedepankan kasih itu juga bukan dewa, tapi ia miliki kesadaran tinggi. Sadar diri, karena dengan kedepankan kasih, ia sukses kalahkan egonya sendiri. Ia tidak terlukai, karena pahami. Bahwa mengasihi adalah jalan kerendahan hati yang dipercaya, imani, dan dihidupi dari teladan Yesus Guru Agung.
Berani mengampuni orang yang bersalah, karena kita ingin diampuni Tuhan.
Yesus mengajari kami untuk mudah memaafkan dan mendoakan mereka yang menyalibkan-Nya.
Dengan mengalah dan mendulukan kepentingan orang lain itu tidak identik kita lemah, loyo, dan kalah. Sebaliknya menunjukkan kita miliki pribadi yang tangguh, karena rendah hati.
Selalu mengasihi sesama dengan ikhlas hati itu tuntas.
Mengasihi, karena Tuhan murah hati.
…
Mas Redjo
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

