Jika dirimu hendak berbagi hari ini, berbagilah. Untuk berbagi itu tidak harus menunggu sampai besok atau lusa. Mengapa?
Jika kita membaca Injil tentang kisah Yesus yang memberi makan 5000 orang, hati kita jadi rindu untuk melakukan hal yang sama, yaitu berbagi … seperti yang dilakukan oleh anak kecil yang membagikan 5 potong roti dan 2 ikan yang dimilikinya.
Kepada siapa kita berbagi?
Putuskan sendiri, sebab kita tahu kepada siapa hendak berbagi saat ini. Kita juga tahu, siapa saja orang-orang yang perlu ditolong saat ini.
Muncul pertanyaan berikutnya:
“Apakah saat ini kau mempunyai 5 potong roti dan 2 ikan di tangan?” Bagaimana rasanya? Mau dipertahankan untuk kebutuhan sendiri atau dibagikan? Tidak mudah untuk memutuskan, apalagi berbagi, ketika kita sendiri membutuhkan.
Kenyataannya ini yang terjadi:
Bagi yang sudah biasa berbagi itu tidak masalah, bahkan dia senang berbagi. Apalagi, jika dia didoakan oleh yang mendapatkannya. Didoakan agar sehat, bahagia, sukses, dan sejahtera.
Sebaliknya bagi orang yang tidak biasa atau tidak pernah berbagi itu sulit sekali. Timbul pertanyaan dalam pikirannya, “Mengapa harus berbagi?” Alasannya, masih butuh dan kurang. Sehingga harus bekerja keras untuk mendapatkan kebutuhannya.
Bagi yang belum pernah berbagi itu sulit untuk melakukannya. Tapi coba, rasakan sentuhan kasih di hati saat berbagi. Amati orang yang dibantu itu…
Kita melihat contoh dari anak kecil yang berbagi tulus hati dengan ‘5 potong roti dan 2 ikan’. Kini saatnya bagi kita untuk mengalami sensasi rasanya berbagi itu. Berbagi tidak menunggu besok atau lusa, tapi mulai hari ini. Setelah itu, akan dicatat oleh Tuhan dalam “Buku Kebaikan,” yang isinya tentang daftar kebaikan kita.
Berbagi ikhlas hati!
Rm. Petrus Santoso SCJ

