“Berbuat karya kasih secara nyata itu lebih berguna dan bermakna, dibandingkan dengan ribuan kata motivasi yang membahana.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Ketika saya mengalami kesulitan untuk menuangkan ide ke dalam tulisan, saya mewujudkan hal itu jadi nyata.
Ternyata dengan ke luar rumah itu ibarat saya ke luar dari keegoisan diri.
Bagaimana tidak. Di dalam rumah saya asyik dengan diri sendiri. Ke luar rumah saya bersosialisasi, dan langsung praktek.
Berteori itu lebih mudah, ketimbang praktek?
Tidak juga. Faktanya, saya tidak gagap atau demam panggung. Karena saya berbuat nyata itu dalam senyap. Tanpa basa basi atau berkamuflase, tapi muncul dari panggilan hati.
Jika berteori itu sekadar dalam kata dan ucapan, tapi bersosialisasi itu lewat keteladanan. Memberi contoh nyata.
Modal utamanya adalah peduli, empati, berbela rasa, dan berbagi dengan sukacita.
Karena peduli pada anak, misalnya. Saya tidak bosan untuk memberi contoh keteladanan agar seirama dalam ucapan dan tindakan. Saya juga tidak lelah dan bosan untuk mengingatkan dan berdoa ikhlas agar masa depan anak itu cerah.
Karena empati, hati ini jadi mudah tergerak melihat beban persoalan dan hidup orang lain yang kurang beruntung. Untuk berbagi seteguk air, sesuap nasi, sekerat senyuman, ide, atau tenaga. Karena berbagi itu tidak harus dengan materi, tapi dari yang dipunyai.
Karena berbela rasa, saya ingin hadir dan ada untuk mereka yang sedang berkesusahan atau alami duka nestapa. Untuk menghibur, menyemangati, dan meneguhkan hati mereka agar tabah, sabar, dan bangkit kembali untuk menapaki jalan hidup yang baik.
Karena berbagi dengan suka cita, saya memberi dengan ikhlas hati tanpa sekat dan tanpa beban.
“Kamu memperoleh dengan cuma-cuma, berikan pula dengan cuma-cuma” (Matius 10: 8).
…
Mas Redjo

