| Red-Joss.com | Sepertinya, ketika Sang Guru mengatakan yang mempunyai satu hasilkanlah satu. Yang dua, ya dua dan yang punya sepuluh tentunya sepuluh hasilnya.
Sesungguhnya bukan tentang jumlah angka, melainkan tentang rasa hati, yang sukacitanya terjadi, karena mau berbagi sukacita itu dengan sesama.
4 tahun yang lalu, di pojok kiri rumah bagian depan, kami tanam sepohon jambu Jamaika. Sering berbunga tapi cepat jatuh sebelum sempat menjadi buah.
Tiba-tiba, minggu sore yang lalu istri memanggil: “Pa lihat deh,” sambil telunjuk jari menunjuk sebuah jambu sebesar kepalan tangan, bergantung indah dengan warna merah, seolah ingin berkata “pohonku kecil dan kusam, namun bisa berbuah, walau satu saja.” Ya, berbuah hanya satu, ‘thil’.
Seperti halnya pohon jambu itu, “hidup kita dapat disebut hidup jika berbuah.” Kalaupun buahnya hanya satu, namun tetap membawa sukacita.
Di jejak perjalanan hidupku ini, pernah terjadi fase tidak berbuah yang terbaca oleh sahabat dekatku dan: “Kak, izinkan kami membantu Kakak.” Tawaran baiknya terbungkus oleh hatinya yang halus tiada ikatan. Tak mudah. Butuh sikap berani dan rendah hati yang prima untuk memberi dan untuk menerima. ‘Gaudete!’
Salam sehat dan tetap berbagi yang tak mengikat.
…
Jlitheng

