| Red-Joss.com | Hanya dengan iman yang teguh, bahwa Yesus yang menderita dan yang wafat di salib itu adalah Yesus yang sama dengan yang bangkit, maka kita dapat turut mewartakan-Nya dan menyerukan kembali, “Dia sudah bangkit!”
Mengapa kebangkitan-Nya begitu penting untuk kita? Santo Paulus mengatakan, kalau Yesus tidak bangkit, sia-sialah semuanya ini.
Oleh arena itu Thomas tidak dibiarkan dalam keraguan oleh Tuhan Yesus. Dia juga tidak marah, tidak sakit hati, sebaliknya, dengan hati yang penuh kasih Yesus mengatakan: “Taruhlah jarimu di sini dan lihat tangan-Ku. Ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku, dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”
Thomas dihadapkan pada kenyataan iman bahwa: Yesus yang terluka di salib adalah Yesus yang sama, yang kini bangkit. Thomas mempunyai pengalaman iman akan Yesus dan mengakui Yesus sebagai Tuhan.
Pengakuan Thomas itu hanya terjadi, karena kerahiman Allah.
Kerahiman Allah menjadi daya dorong Thomas dan semua yang percaya pada Yesus yang bangkit untuk berubah dan bertumbuh:
– Dari yang terluka menjadi yang mengampuni.
– Dari yang tak peduli menjadi yang mengasihi.
– Dari yang takut menjadi yang berani bersaksi tentang kebenaran
Ada seorang bocah laki-laki, Sunar sedang berlibur di rumah kakek – neneknya di desa. Dia dapat sebuah katapel untuk bermain di hutan. Dia mencoba dan mencoba, tapi tidak pernah mengenai sasaran. Dengan kesal dia pulang untuk makan. Pada waktu pulang, dilihatnya ayam peliharaan neneknya. Masih dalam keadaan kesal, dibidiknya kepala ayam itu… kena! Matilah ayam itu. Sunar kaget, sedih dan juga panik. Disembunyikannya bangkai ayam di bawah tumpukan kayu.Tanpa dia tahu, kakak perempuannya mengawasi. Evi namanya, melihat semuanya, tetapi tidak berkata apa pun. Sesudah makan, nenek berkata, “Evi, cuci piring.” Tapi Evi berkata, “Nenek, Sunar bilang, bahwa dia ingin membantu di dapur, begitukan Sunar?” Lalu Evi berbisik, “Ingat ayam?” Jadi Sunar yang mencuci piring. Kemudian kakek mengajak anak-anak besok pergi mancing, dan nenek berkata, “Maaf, tapi aku perlu Evi untuk membantu menyiapkan makanan.” Evi tersenyum dan berkata, “Tak apa, Sunar kasih tahu, kalau dia yang ingin bantu nenek.” Kembali dia berbisik, “Ingat ayam?” Jadi Evi yang pergi mancing dan Sunar tinggal di rumah. Setelah beberapa hari terjadi seperti itu, melakukan semua tugasnya dan tugas-tugas Evi, akhirnya Sunar tidak tahan lagi. Ditemuinya neneknya dan ia mengaku telah membunuh ayam nenek dan meminta ampun. Nenek berlutut dan merangkulnya, katanya, “Sayang, aku tahu. Tidakkah kau lihat, aku berdiri di jendela dan melihat semuanya. Karena aku mencintaimu, aku maafkan. Hanya aku heran berapa lama kamu akan biarkan Evi memanfaatkanmu.”
Memanfaatkan kelemahan orang lain (kemiskinan, kepolosan, kesalahan dan ketidaktahuan), demi keuntungan pribadi adalah kejahatan melawan kasih yang bertentangan dengan jiwa Paskah.
Tetap berusaha berbagi cahaya walau makin tidak mudah.
…
Jlitheng
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

