Karena sepi, aku tidak mau berdiam diri meliarkan imaji ditenggelamkan mimpi. Aku berhening diri mengatur strategi untuk menyongsong masa depan yang pasti.
Saatnya aku bangkit untuk menata diri. Karena berkutat dengan masa lalu itu suatu kekalahan, ketika kita tidak berani menerima kenyataan pahit.
Semangat perjuangan harus terus digelorakan. Kegagalan itu sukses yang tertunda agar kita melihat hikmat Allah untuk maju mengadapi tantangan demi merebut mahkota kemenangan.
Saatnya aku harus bergerak maju dan melangkah dengan optimis. Aku harus berani melupakan masa lalu dan kenyataan pahit itu.
Berputus asa dan menyerah berarti kalah. Pejuang sejati itu pantang mundur, tapi harus terus berinovasi dan berkreasi untuk menjawab tantangan zaman.
Meski semua sektor usaha melesu dan drop, karena krisis ekonomi berkepanjangan. Tapi pejuang sejati harus menemukan solusi untuk meraih sukses.
‘Wait and see’, untuk menyikapi perkembangan perekonomian itu baik. Tapi kita tidak sekadar hanya melihat dan terus menunggu, tanpa berbuat apa-apa.
Begitu pula yang sedang kujajagi dan segera kulakukan. Aku harus terus berkreasi mencari hal-hal baru untuk menjawab tantangan zaman.
Aku juga sadar sesadarnya, bahwa kesuksesan itu tidak sebatas pada suatu hasil pencapaian yang dinilai dari uang semata. Tapi dipengaruhi juga oleh pemenuhan spritual agar hidup ini bermakna bagi sesama.
Kini prioritas utama dan pertama yang aku lakukan adalah aku harus berani berubah. Bahkan aku juga tidak malu, jika harus memulai dari nol alias bawah lagi.
Dengan berani melakukan hal baru dan terobosan itu berarti aku telah mengalahkan kemalasan diri sendiri.
Seorang pembaharu itu harus berani dan berani untuk melakukan hal-hal baik dan positif. Karena hidup ini sungguh bermakna!
Mas Redjo

