Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ketika seseorang berani untuk meminta maaf, berarti dia telah kembali menemukan jati diri sejatinya.”
(Didaktika Hidup Sejati)
…
Manusia adalah ciptaan yang paling sempurna, tidak saja karena makhluk berakal budi, namun terutama karena dia adalah ciptaan yang berkehendak baik.”
Sebuah Tindakan Mulia
Alangkah mulia dan mengharukan nurani kita, di saat seorang berani berterus terang dan ikhlas untuk meminta maaf atas kesalahan serta kekeliruannya.
Hal itu sangat manusiawi. “Sekalipun rohmu itu memang kuat, tapi daging itu lemah,” titah Sang Guru Agung, Yesus Kristus kepada Petrus.
“Errare humanum est,” kata orang yang berbahasa Latin. Riil pula, bahwa kekeliruan adalah sikap bawaan manusia, itu juga sudah kodratnya.
Harian Kompas, Minggu, (21/7/2024), pada halaman depan tertera judul berita “JI Meminta Maaf kepada Negara dan Masyarakat.”
“Jemaah Islamiah atau disingkat (JI) meminta maaf atas berbagai aksi pengeboman yang dilakukan bekas anggota JI. Eks pimpinan JI mengajak semua anggotanya ikut keputusan organisasi untuk membubarkan diri.” Demikian sub judul dari tulisan ini. (Liputan Khusus Harian Kompas).
Sikap Meminta Maaf dan Sikap Mengampuni
Hal meminta maaf dan mengampuni alias memaafkan, itu laksana sekeping uang koin yang memiliki dua sisi sebelah menyebelah yang tidak dapat terpisahkan.
Yang terjadi di dalam proses ini adalah hukum aksi-reaksi. Sebuah hukum kehidupan, yang bersifat seimbang alias timbal balik.
Jika seseorang dengan tulus dan berani meminta maaf atas kekeliruan serta kekhilafannya, maka hendaklah disambut dengan sikap terbuka serta tulus pula berusaha untuk melupakan perbuatan yang salah itu.
Mengapa? Karena tidak mustahil, bahwa kita juga seringkali melakukan kesalahan dan kekeliruan yang sama kepada pihak lain.
Bukankah secara psikologis dan rohani betapa bahagianya kita, ketika kesalahan kita pun diampuni? Maka, betapa luhurnya, jika kita sanggup pula untuk memaafkan seseorang.
Kini saya mencoba untuk membagikan kenangan nuraniku kepada Anda, saat saya tertegun serta terpesona atas sikap Tuhan Yesus yang sungguh ikhlas untuk mengampuni kesalahan orang-orang berdosa.
Inilah Pengampunan dari Tuhan
“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, maka akan menjadi seputih salju. Merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperi bulu domba!”
“Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!”
“Dan Aku pun tidak menghukum engkau!”
“Aku datang untuk mencari dan menyelamatkan domba-domba yang tersesat!”
“Bukan orang sehat yang membutuhkan tabib, melainkan orang sakit!”
“Ampunilah sebanyak 70 kali 7 kali!”
Mari kita menundukan kepala untuk memeriksa batin kita, beranikah kita untuk meminta maaf pun memaafkan?
“Ampunilah kamu seorang terhadap yang lain, maka Tuhan juga akan mengampunimu!”
…
Kediri,ย 22ย Juliย 2024

