“Gajah di seberang lautan tampak, tapi tidak melihat balok di depan mata sendiri.”
…
| Red-Joss.com | Sekarang pameo itu dibalik. Kita sulit sekali melihat hal-hal buruk dan kejelekan orang lain agar kita mampu melihat kekurangan dan kelemahan sendiri!
Lho? Kok kaget? Ternyata hal itu sulit, faktanya teramat sulit. Bahkan sedikit di antara kita yang mampu untuk menyadari dan melihat realitas itu. Karena hal itu anugerah Allah.
Berani untuk melihat hal-hal baik dan positif dari orang lain agar kita mampu melihat kekurangan dan kelemahan sendiri. Kendati sulit, cobalah berefleksi diri dan mohon anugerah Allah agar kita menjadi rendah hati.
Sesungguhnya untuk berani dan mampu melihat kebaikan orang lain adalah anugerah Allah yang luar biasa.
Anugerah yang kudu dilatih dengan membuka mata hati agar kita makin peka dan jeli untuk melihat pribadi-pribadi yang luar biasa itu.
Dengan berorientasi untuk melihat kebaikan orang lain, secara pelan tapi pasti mampu mengubah cara pandang atau persepsi kita untuk melihat anugerah Allah pada setiap pribadi.
Caranya adalah selalu melihat kebaikan orang lain. Kita tidak harus melihat hal-hal yang hebat atau spektakuler, tapi dari hal yang kecil, sederhana, dan remeh temeh.
Misalnya saat orang menyapa kita, tersenyum, memberi segelas air, atau memberi tumpangan payung sewaktu kehujanan.
Ketika orang-orang itu berbuat baik, kita tidak lupa untuk bersyukur, mengucap terima kasih, dan mendoakan mereka semoga berlimpah berkat.
Dengan berorientasi untuk melihat kebaikan orang lain, sejatinya kita diajak agar tidak mudah kecewa, terluka, dan sakit hati akibat sikap atau perbuatan orang lain yang tidak berkenan di hati.
Jika ada perbuatan orang yang kurang menyenangkan atau khilaf, kita mudah memberi maaf, mengampuni, dan mendoakan. Sebab mereka tidak tahu yang diperbuat. Bisa juga Allah menunjuk kita untuk membantu orang itu.
Berani untuk selalu melihat hal-hal baik dan positif dari orang lain agar hidup kita dilimpahi damai, tentram, dan bahagia.
…
Mas Redjo

