Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Anda perlu memiliki mental baja serta spirit keberanian yang merah membara.”
(Didaktika Hidup Sadar)
…
Dari Pengalaman Hidup
Tulisan ini dilatari oleh pengalaman nyata di saat saya menerima curhatan dari sesama.
Ternyata, tidak sedikit orang yang akhirnya tersingkir dan terbuang dari dalam komunitasnya, di saat dia berani untuk berkata, tidak pada ajakan salah dari komunitasnya.
Hidup ini nyata disuguhi oleh realitas berupa aneka tawaran yang dapat memancing nurani dan budi kita untuk segera bersikap.
Dalam konteks ini, biasanya selaku manusia biasa, kita akan sangat mudah untuk terbawa arus emosi sesaat, bahkan tergoda untuk mengambil sikap ya, atas tawaran yang dapat membangkitan rasa senang, enak, dan menggairahkan, bukan?
Risiko Menghadang, jika Anda Berani Berkata Tidak
Dari beberapa kesempatan bercurhat dengan sesama, saya dapat menarik suatu benang merah, bahwa ternyata, sungguh berisiko dan bahkan bisa sangat fatal, jika Anda menolak dengan berani untuk berkata, tidak!
Terpental dan terjerembab dari dalam kandang sebuah kebersamaan alias komunitas adalah hal sungguh pahit dan menimbulkan perang batin. Sakit dan bisa terluka parah.
Setelah Anda berani berkata, โtidakโ alias menolak tawaran suatu kenikmatan, biasanya Anda segera dicibir dan dijauhi.
Ya, itulah dampak negatif sesaat bagi Anda. Juga sebuah risiko yang amat wajar dalam pergaulan di suatu komunitas.
Bersikap Berani adalah Spirit Ekstra di Luar Nalar
Sejatinya, orang yang berani bersikap kontra dengan melawan arus umum bersama, biasanya karena keberanian yang sudah berada di luar batas nalarnya. Artinya ia berani untuk bersikap di luar nalar yang wajar itu.
Di sinilah terletak sikap patriot paripurnanya. Karena dia, ternyata sudah sangat berani untuk menghadang terjangan dari sebuah arus besar dari dalam komunitasnya sendiri.
Adagium, “Musuh dalam selimut,โ โapi dalam sekam,โ atau juga โduri dalam daging,” itu sudah berlaku dalam pergulatan dalam komunitasnya.
Sebuah realitas hidup paling pahit, jika Anda juga saya bersikap berani dalam mengambil sikap untuk berseberangan, karena memiliki prinsip teguh tentang sebuah kebenaran sejati.
Ada prinsip hidup, “beranilah bersikap, karena Anda benar, dan takutlah, jika Anda memang bersalah.”
“Katakan ya, jika itu memang ya, dan katakan tidak, jika itu memang tidak. Selebihnya, justru berasal dari sang iblis!
…
Kediri,ย 1ย Juliย 2024

