“Mudah beradaptasi, luwes, dan memberi perubahan positif, karena kita adalah garam dan terang dunia.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Semangat jadi garam dan terang dunia (Matius 5: 13-16) itu harus dinyalakan dalam jiwa ini, ketika kita memutuskan untuk mengikuti Tuhan Yesus. Kita harus komitmen, konsekuen, dan konsisten.
Seperti pengalaman saya, ketika pindah kontrakan di komplek. Kami yang orang kampung ini merasa tidak dianggap dan diremehkan tetangga. Saya melihat dari tatapan mereka. Hal yang sama dirasakan istri. Tapi saya menutupinya dan membesarkan hati istri, supaya berpikir positif dan berprasangka baik pada mereka agar hatinya tenang.
“Jangan baper. Kita pindah, karena dekat kantor. Di lingkungan komplek juga banyak sekolah yang nantinya memudahkan anak-anak kita.“
Bagi saya, diremehkan itu tidak membuat semangat jadi nglokro. Sebaliknya saya termotivasi untuk rajin berjuang agar ekonomi keluarga makin membaik.
“Mudah beradaptasi dan luwes di mana pun kita bersosialisasi itu prinsip,” sehingga saya cepat diterima di komplek itu, terutama di kalangan anak muda yang biasa nongkrong di pos satpam.
Saya bersyukur bisa bermain gitar, sehingga cepat diterima mereka. Lalu kami membentuk vokal grup Karang Taruna.
Tidak hanya itu, bersama pengurus Karang Taruna, saya membagikan ilmu dan pengalaman dalam bidang tulis menulis pada anak muda yang senang mengarang. Lalu menjalar ke seni lukis untuk anak dengan mendatangkan seorang pelukis, hingga membuat eco enzym dari limbah rumah tangga.
Semangat perubahan itu tidak harus dengan melakukan pekerjaan yang besar dan spektakuler, tapi dapat dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana. Perubahan positif untuk menuju arah yang makin baik.
Sebagai garam dan terang dunia, umat Kristiani dituntut untuk menggarami lingkungan sekitar dan jadi penerang yang mengusir kegelapan. Teladan Tuhan Yesus menyata dalam hidup kita!
…
Mas Redjo

