Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Jejak kaki sang cinta sejati yang tertinggal di sini.”
(Amanat sang Nurani Suci)
…
Jejak Kaki sang Kebaikan Sejati
Seorang Misionaris yang hilang di laut lepas akhirnya kembali ditemukan. Dia terdampar di sebuah pulau nan sunyi.
Di suatu hari, para penduduk desa itu menemukannya dalam kondisi sangat lemah dan tak berdaya. Kini perlahan kesehatannya berangsur mulai pulih, karena dirawat oleh penduduk desa itu.
Dia lalu bersedia menetap di desa terpencil itu dengan mendirikan sebuah gubug di tengah hutan.
Selama itu, penduduk desa itu tidak pernah tahu, sesungguhnya status beliau. Karena selama itu ia tidak pernah menunjukkan identitasnya sebagai seorang Misionaris.
Dia tidak mempersembahkan Ekaristi, tidak tampak sedang berdoa, dan tidak menyanyikan madah pujian layaknya seorang Misionaris.
Namun, selama ini dia telah menunjukkan sikap kepedulian, berempati, dan bela rasa yang sungguh menakjubkan di mata para penduduk desa itu.
Apa konkretisasi dari tindakan kasihnya? Dia pun tidak segan untuk mengunjungi orang-orang sakit, memberi mereka makan, rela mengajar penduduk untuk bercocok tanam, dan bahkan siap untuk memasang badan demi membela penduduk desa yang tertindas.
Suatu hari, datanglah sejumlah Misionaris asing ke desa terpencil itu untuk bermisi. Mereka mewartakan tentang Yesus Kristus sebagai sesosok figur yang penuh berbelas kasih.
Mendengar isi dan inti dari pewartaan itu, maka para penduduk desa menyimpulkan, bahwa ‘jangan-jangan si Misionaris yang tinggal di tengah mereka itu adalah Yesus.’
Mereka berkata, “Mari kami antarkan kalian kepada seseorang yang mungkin saja adalah Yesus …”
Alangkah terperanjatnya para Misionaris itu, karena tidak pernah menduga, bahwa mereka akan bersua kembali dengan seorang rekan mereka yang sudah sangat lama menghilang di laut lepas.
(Kisah-kisah Rohani Pembangkit Semangat)
“Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku lewat perbuatan-perbuatanku”
(Yakobus 2: 18).
“Kesaksian sejati dari iman kita adalah lewat perbuatan dan bukan lewat kata-kata.”
Lewat kisah sang Misionaris saleh itu, kepada kita diwartakan, bahwa “iman tanpa perbuatan adalah mati!”
Spirit Terselubung
Ada pun spirit terselubung di balik tulisan refleksi ini adalah berupa sebuah ujian atau tantangan kepada kita, “Apakah kita telah mempraktikkan isi dari ajaran iman kita?”
“Bukan mereka yang berseru, Tuhan-tuhan yang akan diselamatkan, melainkan mereka yang melakukan perintah-Ku!”
(Amanat Sang Guru Agung)
…
Kediri, 15 Januari 2025

