Dalam Injil Markus, Yesus mengumpakan Kerajaan Allah seperti biji sesawi. Benih itu paling kecil, tapi kemudian jadi besar dan berguna bagi sekitarnya.
Gambaran ini meneguhkan kita, bahwa Tuhan tidak selalu memulai karya-Nya dari hal-hal yang besar, mencolok, atau dianggap hebat oleh manusia. Justru dari kesetiaan kecil: doa yang sederhana, pelayanan yang mungkin tidak terlihat, keputusan untuk tetap jujur, atau hati yang mau mengampuni itu Tuhan menumbuhkan sesuatu yang kelak jadi tempat berteduh bagi banyak orang. Benih kecil di tangan Tuhan tidak pernah sia-sia.
Yesus juga menyampaikan perumpamaan tentang benih yang ditaburkan petani: benih itu bertunas, tumbuh, lalu menghasilkan buah. Tapi petani itu “tidak tahu bagaimana terjadinya.” Di sini kita diajak menyadari misteri rahmat: manusia boleh menabur, merawat, daa ada bertekun. Tapi yang memberi pertumbuhan sejati adalah Tuhan. Ada bagian hidup rohani yang tidak dapat dipaksa oleh kekuatan manusia. Sebab itu iman tidak hanya menuntut kerja keras, melainkan juga penyerahan diri dan percaya, bahwa Tuhan bekerja diam-diam, bahkan saat kita merasa tidak ada perubahan apa pun.
Perjalanan iman itu tidak selalu mulus. Ada godaan, kelelahan, dan luka batin yang membuat manusia jatuh dalam dosa. Ini seperti benih yang sudah mulai tumbuh, tapi diserang wabah, hama, atau penyakit yang mengancamnya hingga rusak.
Dosa itu bukan hanya sekadar ‘kesalahan kecil’, melainkan daya penghancur yang dapat merampas kedamaian, meretakkan relasi, melemahkan panggilan, bahkan mematikan semangat untuk bertumbuh. Jika tidak dijaga, benih unggul pun bisa berhenti berkembang sebelum sempat menghasilkan buahnya.
Kitab Suci menunjukkan, bahwa godaan tidak mengenal status: Raja Daud yang dipilih Tuhan pun pernah jatuh dalam dosa perzinahan. Kejatuhan Daud mengingatkan kita, bahwa hati manusia dapat lemah ketika lengah, merasa aman, atau membiarkan diri dikuasai keinginan.
Kisah Daud menyatakan sesuatu yang sangat penting: Tuhan tidak berhenti mengundang pertobatan. Ketika manusia tersungkur, jalan pulang tetap dibukakan. Rahmat Tuhan sanggup memulihkan, tapi tanggung jawab manusia adalah berjaga-jaga, jujur pada diri sendiri, dan segera kembali sebelum luka dosa jadi semakin dalam.
Menjaga benih panggilan adalah tugas rohani yang serius. Kita dipanggil untuk menjaga diri, mata, hati, relasi, disiplin doa, dan menjaga kepekaan nurani. Sebab panggilan hidup adalah sesuatu yang mulia dan harus dipelihara. Kita membutuhkan rahmat perlindungan Tuhan setiap hari agar tidak mudah terbawa arus dunia, tidak dikuasai bisikan musuh yang mematikan, dan tidak menganggap remeh pintu-pintu kecil yang dapat membawa kita jatuh.
Marilah kita berdoa. Ya, Tuhan yang Maha Bijaksana, jadikanlah kami benih-benih yang selalu siap ditumbuhkan dan dibuahkan demi kebaikan hidup kami dan pemenuhan janji untuk mendapat kesempurnaan di dalam Dikau. Amin.
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

