Dalam Kitab Amos dikisahkan betapa serakah dan curang orang-orang kaya yang dengan keji menginjak-injak orang miskin. Mereka adalah gambaran orang yang mengabdi kepada nafsu, kekayaan, dan kesenangan semata. Mereka adalah gambaran orang yang mengabdi Mamon.
Seperti yang dikatakan Yesus, mengabdi Allah dan setia pada hukum-Nya jelas sangat sulit. Karena itu, tidak mungkin mengabdi kepada dua tuan. Namun, bukan berarti tidak ada kesempatan untuk bertobat, dan beralih kepada-Nya.
Kisah bendahara yang jujur menunjukkan kesempatan dan kemungkinan itu. la yang sebelumnya berbuat curang itu menyadari kebutuhan untuk bertahan hidup yang kemudian mendorong dia untuk meninggalkan kecurangan, bahkan rela rugi supaya selamat.
Kisah dalam Injil ini mungkin terasa sangat dekat dengan kita; bahkan mungkin pernah dialami atau kita lakukan. Pertobatan dilakukan, ketika kita berada dalam situasi terdesak. Demi menyelamatkan diri, kita rela berbalik arah; bahkan rela berkorban. Namun, apa pun motivasi dan situasi yang melatarbelakangi pertobatan seseorang, Yesus menegaskan, bahwa selalu ada kesempatan untuk bertobat. la juga mengajak kita untuk setia mengabdi kepada-Nya, mulai dari perkara-perkara kecil yang dapat ditemukan dalam hidup harian keluarga; sikap kita pada pasangan, anak, maupun orangtua; dalam cara kita bekerja, keberanian kita untuk jujur dan adil, dalam sikap bertanggung jawab terhadap pekerjaan, dan dalam gairah kita untuk memberikan yang terbaik.
Apakah kita juga berani “rela rugi supaya selamat?”
Tentu tidak mudah bagi kita untuk memahami, bagaimana bendahara yang tidak jujur itu justru mendapat pujian. Pujian itu tentunya tidak terkait dengan ketidakjujurannya, tapi pada bagaimana sikap dia dalam memberikan itu.
Kecerdikan bendahara ini jadi contoh bagi Yesus untuk menyampaikan, bagaimana kita menggunakan Mamon untuk persahabatan dan kebaikan. Ini bukan berbicara dan membenarkan gratifikasi, apalagi korupsi. Ini seperti pepatah Jawa yang mengatakan “lebih baik untung sedikit daripada kehilangan persaudaraan:” memotong keuntungan pribadi dan memberikan bonus kepada orang dapat jadi sarana membangun persaudaraan yang mengatasi bisnis. Kebaikan kita pun akan diingat oleh mereka, dan pada suatu saat, ketika kita membutuhkan, mereka pun akan menolong kita. Apakah kita tidak termasuk bendahara yang tidak jujur?
“Ya, Bapa, mampukanlah kami unluk selalu berlindak benar dan baik dengan harta dan kekayaan yang kami miliki demi membantu orang lain dan membangun persaudaraan yang baik sesuai kehendak-Mu. Amin.”
Ziarah Batin

