Calon Mantu – 19 | Oleh Mas Redjo
Red-Joss.com | Hidup ini anugerah yang harus dijalani dan disyukuri sebagai berkat Allah.
Dengan selalu bersyukur dan berserah pada Allah, saya menjalani hidup ini tanpa beban agar bahagia.
Pahit manisnya hidup ini saya nikmati dengan hati yang ‘semeleh’ agar saya jauh dari stres.
Dengan berpikir positif, saya mencoba mencari hikmah apa pun masalah yang saya hadapi, sehingga saya tidak ‘kemrungsung’, dan hati ini jadi tenang
Begitu pula dengan masalah Bagas yang digantung tanpa kepastian oleh Dini. Lalu sikap Wen yang menyepelekan pekerjaan dan cuek, hingga Pak Hasan yang sulit dihubungi itu mampu mengusik pikiran saya jadi agak galau.
“Tolong ya, Wen, atur waktunya dengan Ayahmu. Kapan kita bisa ketemuan,” kata saya siang itu. Ketika saya menelpon Pak Hasan, tapi Wen yang mengangkat telepon. Padahal saya nitip pada resepsionis untuk disambungkan pada Pak Hasan!
“Saya sampaikan ke Bapak,” janji Wen. Entah kenapa saya jadi malas melanjutkan pembicaraan dengan Wen. Mungkin, karena Wen mempunyai pacar dan saya jadi kecewa? Saya gagal mendekatkan Bagas dengan Wen?
Saya akui, awalnya saya kecewa. Karena saya merasa sreg dengan Wen dibandingkan dengan Dini. Entah karena apa dan di mananya, sehingga bayangan Wen mampu merebut simpati saya dan istri saya, In. Bahkan In lebih condong memilih Wen ketimbang dengan Dini. Alasan In sepele : Wen keibuan, sederhana, sopan, dan sabar.
Selanjutnya baca di Calon Mantu – 19 | Benarkah Lelaki Beristri itu Pacar Wen?

