“Belas kasih dimulai, ketika kita turun dari kursi hakim dan berlutut dalam doa.”
Yesus menyampaikan sabda yang singkat, namun menembus hati:
“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”
Tuhan, sering kali kami menuntut keadilan bagi orang lain, tapi memohon belas kasih bagi diri sendiri. Kami menilai, mengukur, bahkan diam-diam menghakimi. Tuhan mengundang kami turun dari kursi hakim dan kembali jadi anak.
Melalui Nabi Daniel, Tuhan menunjukkan jalan untuk mengerti kehendak-Nya: doa yang sungguh-sungguh, puasa, dan pertobatan. Daniel memahami nubuat tentang masa pembuangan. Ia tahu, bahwa pengertian akan memberi harapan bagi umat yang sedang menderita. Ia tidak hanya membaca, tapi berdoa. Ia berpuasa, mengenakan kain kabung dan abu. Ia mengakui dosanya dan dosa bangsanya.
Tuhan, seberapa serius kami ingin mengerti sabda-Mu? Apakah kami mau berdoa, berpuasa, dan bertobat seperti Daniel? Ataukah kami hanya berusaha setengah hati, lalu menyalahkan sabda-Mu, karena terasa jauh dari hidup kami?
Pemazmur berseru: “Janganlah Engkau mengingat-ingat kesalahan kami.” Itulah jeritan hati yang sadar akan kebutuhan belas kasih.
Yesus berkata: “Janganlah kamu menghakimi dan menghukum, tapi ampunilah, maka kamu akan diampuni… Berilah, dan kamu akan diberi.”
Yesus, betapa mudahnya kami duduk di kursi hakim. Kami menilai motivasi orang lain. Kami mengukur orang dari kesalahan mereka. Kami lupa bahwa ukuran yang kami pakai akan diukurkan kembali kepada kami.
Padahal hanya Engkau yang melihat hati. Ketika kami menghakimi, kami bertindak seolah-olah kami melihat segalanya. Ketika kami berbelas kasih, kami mengakui bahwa kami tidak melihat semuanya.
Engkau mengampuni Petrus yang menyangkal-Mu. Engkau membela perempuan yang tertangkap basah berzinah. Engkau berdoa bagi mereka yang menyalibkan-Mu. Itulah kekuatan Ilahi; bukan kelemahan.
Bapa, benamkanlah kami dalam samudra Kerahiman Putra-Mu.
Ajari kami, bahwa janji Yesus hanya digenapi, ketika kami menanggapi undangan-Nya: untuk memberi, mengampuni, dan berhenti menghakimi.
Prapaska bukan hanya tentang melepaskan kenyamanan, melainkan tentang melepaskan hak untuk menghakimi.
Tumbuhkanlah belas kasih dalam diri kami, agar keluarga kami jadi lebih lembut, komunitas kami menjadi lebih aman, dan hati kami jadi lebih merdeka.
Yesus, ajarilah kami menilai sesama dengan ukuran Surga. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

