| Red-Joss.com | Ketika diminta memberi nasihat pada kedua mempelai, saya minta kepada mereka untuk belajar saling memahami. Caranya: menghormati pasangannya, ketika sedang bicara. Tidak dengan memotong atau menyela, tapi mendengarkannya.
Intinya, dengan mendengarkan kita memahami maknanya agar tidak salah tafsir, apalagi miskomunikasi. Sehingga mudah timbul konflik. Padahal konflik ini yang harus dihindari dalam hidup berumah tangga.
Dengan mendengarkan pula, kita belajar menahan diri untuk tidak emosi, tapi menjadi pribadi yang mengalah, pengertian dan sabar.
Sesungguhnya konflik dalam rumah tangga itu timbul, karena kita sering kaget termehek-mehek melihat sifat asli pasangannya. Selama pacaran sifat asli itu belum muncul ke permukaaan. Juga karena dibuai cinta, semua yang di luar tampak baik dan indah.
Faktanya, banyak di antara kita yang belum siap mental untuk menghadapi hal itu. Bahkan tidak jarang, ketika terjadi konflik, mereka jadi berkecil hati, menyalahkan diri sendiri, hingga ingin mengakhiri pernikahan itu dengan berpisah atau bercerai.
Padahal cekcok atau konflik dalam pernikahan itu terjadi, karena mereka saling mengedepankan ego pribadi alias tidak mau mengalah dan sabar demi pasangan yang dicintai.
Jangan mempunyai anggapan pula, bahwa konflik itu bumbu cinta hidup berumah tangga. Konflik itu kuman. Jika tidak segera diatasi bakal jadi penyakit yang berbahaya. Sehingga menyebabkan hubungan renggang, bahkan bubaran!
Dengan saling menghormati dan menghargai pasangan, kita belajar mengerem ego dan mengalah pada pasangan. Mengalah juga tidak berarti kalah, tapi, karena mencintai dan mengasihi pasangan kita.
Jikapun tidak sependapat dengan pasangan, kita tidak harus menyela, menyanggah, atau emosi. Tapi kita mencoba mencari titik temu dan kompromi demi kebaikan bersama.
Kompromi bersama adalah prioritas utama kita untuk menyelesaikan suatu masalah atau persoalan. Tanpa ada yang merasa dikalahkan atau dirugikan. Kita kesampingkan ego pribadi itu demi kebaikan dan keutuhan keluarga.
Sejatinya, ketika menikah, “kita bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat 19: 5-6).
Semangat memahami, karena kita sungguh saling mengasihi.
…
Mas Redjo

