“Tuhan berbicara dengan jujur dan penuh kasih kepada hati kami.”
Dalam Injil, orang-orang bertanya kepada Yesus, “Mengapa murid-murid-Nya tidak berpuasa.”
Jawaban Yesus sederhana, namun mengguncang: “Bagaimana mungkin para undangan pesta berpuasa selama mempelai laki-laki masih bersama mereka?”
Lalu Ia menambahkan gambaran yang semua orang pahami: “Anggur baru tidak dituangkan ke dalam kantong kulit yang lama.”
Yesus sedang mengatakan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar soal puasa. Ia sedang menyatakan siapa diri-Nya. Ia adalah Mempelai Pria. Ia adalah Tuhan. Jika Yesus adalah Tuhan, maka hidup kami tidak bisa tetap sama.
Ya, Bapa, inilah yang sering sulit kami terima. Bagi sebagian orang, pengakuan, bahwa Yesus adalah Tuhan adalah kabar yang membebaskan. Tapi bagi yang lain, itu terasa mengancam. Jika Yesus adalah Tuhan, ego kami tidak bisa lagi jadi pusat hidup kami. Aturan, tradisi, kebiasaan, bahkan sistem religius kami tidak bisa lagi menggantikan ketaatan kepada-Mu.
Ketika Allah menegur Saul dengan tegas. Ia lebih suka ketaatan daripada korban sembelihan. Dalam Mazmur, Allah menyingkapkan isi hati-Nya: bukan persembahan lahiriah yang Ia cari, melainkan hati yang rendah, mau mendengarkan, dan mau dibentuk.
Bapa, sering kali kami ingin memberi-Mu sesuatu, tapi enggan menyerahkan diri kami sepenuhnya.
Kami ingin tetap beragama, tapi dengan cara kami sendiri. Kami ingin setia, tapi tanpa keharusan berubah drastis.
PutraMu, Yesus datang membawa anggur baru: kehidupan Ilahi dan sukacita-Nya, relasi yang hidup dan berkembang, kasih yang menyembuhkan. Tapi anggur baru itu membutuhkan hati yang baru. Bukan hati yang sudah jadi keras oleh kebiasaan, dan hati yang kaku oleh rasa paling benar sendiri, melainkan hati yang lentur, siap diubah oleh Roh Kudus.
Ajarlah kami makna sejati dari puasa dan disiplin rohani. Bukan sebagai kewajiban kosong, melainkan sebagai cara untuk menyediakan tempat dalam diri agar Engkau dapat memenuhi kami kembali. Ketika kami berpuasa dari hal-hal yang mengikat, kami sedang berkata kepada-Mu: Engkaulah yang kami rindukan.
Bapa, jika kami merasa seperti kantong kulit lama, terlalu kaku, sudah terlalu nyaman, dan sulit mengampuni, maka jangan biarkan kami putus asa. Lembutkan hati kami. Luaskan cara pandang kami. Bentuklah kami kembali, agar hidup kami dapat menampung aneka karya-Mu yang baru.
Terima kasih atas kesabaran dan kasih setia-Mu. Jangan biarkan kami kehilangan sukacita pesta, karena berpegang pada bentuk lama, yang sesungguhnya sudah Kau genapi. Jadikan hidup kami persembahan yang berkenan kepada-Mu: hati yang taat, jiwa yang terbuka, dan kasih yang nyata bagi sesama.
Demi Kristus, Tuhan dan Mempelai Pria kami. Amin.
…
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

