“Ketika sulit menuangkan gagasan ke dalam tulisan, lebih baik saya membaca. Dengan berpuasa bisu, saya mendengarkan rencana dan memahami kehendak-Nya.” -Mas Redjo
Jujur, semula saya sangat tertekan, meski telah berusaha menuangkan gagasan itu ke dalam tulisan, tapi selalu gagal. Padahal saya sudah berlama-lama di depan laptop. Tapi pikiran ini serasa buntu.
Lebih konyol lagi adalah, saya telah istirahat cukup, meditasi, membaca renungan, atau melayani pelanggan agar muncul ide baru dan pikiran jadi segar. Anehnya, meski banyak cara dicoba, tetap saja pikiran saya cuntel. Ada apa?
Saya berdiam diri untuk merunut maksud dan tujuan menulis itu dengan pikiran jernih. Demi status, pengakuan, atau kebanggaan?
Padahal tidak untuk semua tujuan di atas. Saya menulis itu sekadar untuk hiburan, bersenang-senang, dan berbagi hal-hal baik serta positif. Lalu?
Saya merenung lama untuk mencari jawabnya. Ternyata untuk berbagi hal baik dan positif itu tidak harus karya sendiri. Tapi saya dapat meneruskan karya orang lain yang bermanfaat bagi sesama.
Ternyata dengan banyak membaca itu saya diingatkan agar senantiasa introspeksi dan sadar diri akan hakikat dari tujuan hidup ini.
Melalui membaca pula, saya belajar untuk mendengar dengan hati dan berdialog dengan Yang Ilahi.
Saya sungguh sadar-sesadarnya, ternyata dengan banyak membaca dan mendengar hal baik dan positif itu saya belajar untuk menemukan rencana dan kehendak Allah dalam hidup ini.
Sejatinya, dengan berbagi hal-hal baik dan positif pada sesama agar kita jadi pribadi yang bersahaja, sabar, rendah hati, dan bijaksana.
Kita tidak mengejar pada hasil pencapaian, tapi ketaatan dan kesetiaan kita pada Allah untuk jadi saluran berkat-Nya.
Mas Redjo

