“Gaji itu dari perusahaan, tapi rezeki itu dari Tuhan.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Salah satu yang mengagumkan dari suku Kamoro, satu dari 7 suku di Mimika, adalah soal keyakinan akan rezeki untuk hari ini. Keyakinan inilah yang membuat mereka tidak khawatir akan hari esok. Apa yang mereka dapat dan punyai hari ini habis dan dihabiskan untuk hari ini. Sungguh tidak masuk logika.
Padahal seperti itulah logika Tuhan. “Berilah kami rejeki hari ini” dan “Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Logika yang berbuah sukacita dan bahagia. Meski logika ini konyol untuk hidup zaman sekarang.
Bagaimana mungkin bisa, hidup tanpa tabungan dan tanpa memikirkan hari esok. Tapi faktanya mereka bisa, dan bahagia.
Jikapun tidak dapat dicerna logika, tapi kita bisa belajar tiga hal untuk menjadikan hidup bahagia.
Pertama: ‘Joyful persons’. Kekhawatiran, ketakutan, dan banyaknya tekanan itulah yang membuat hidup ini tidak bahagia. Penat, stres, dan depresi itu tidak dipungkiri. Lebih baik dikurangi kekhawatiran itu agar hidup ini tidak getir. Kurangi rasa takut agar hidup ini tidak kecut yang berujung bangkrut. Kurangi tekanan, stres, dan depresi, lalu ganti semua itu dengan sukacita dan kebahagiaan.
Kedua: ‘Faithful persons’. Gaji itu dari perusahaan, tapi rezeki itu dari Tuhan. Banyak kisah memang, orang beriman itu tidak pernah kekurangan. “Siapa yang mencari kerajaan Surga dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepada kita.” Klise memang, tapi ini adalah jaminan yang tidak terbantahkan. Ingat, rezeki itu yang mengatur Tuhan. Karenanya orang yang mempunyai iman itu selalu terbuka peluang, kesempatan dan jalan. Burung yang tidak menanam itu menuai, apalagi manusia. Siapa yang berjuang, berusaha, dan tekun berdoa, maka kesuksesan itu akan mendatanginya.
Ketiga: ‘Giver persons’. Mudah berbagi itulah mereka. Bahkan semua yang mereka punyai itu rela diberikan, jika mereka sudah ikhlas berbagi. Kadang yang mereka perbuat itu membuat hati ini jadi terpana. Orang yang sederhana, bahkan seperti tidak mempunyai apa apa, rumahnya juga tidak seperti rumah kebanyakan di luar sana. Tapi mereka murah hati dalam memberi dan berbagi. Bahkan tidak malu meminta uang (oyek) ojek, setelah semua itu diberikan.
Ingat menerima itu berkah, sedang memberi itu anugerah.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

