RedJoss.com – Belajar itu tidak terbatas di bangku sekolah, membaca buku, atau pada orang cerdik pandai. Kita juga dapat belajar pada alam atau hewan. Salah satunya adalah pada seekor kupu-kupu.
Dipilihnya seekor kupu-kupu, karena hewan itu mampu mencerminkan perjalanan hidup kita.
Hidup itu anugerah Allah yang tidak boleh disia-siakan.
Hidup itu kesempatan untuk berubah, memperbaiki diri, semakin menjadi baik, dan bermakna.
Ketika muda, kita cenderung emosian. Sok hebat, sok pintar, dan berjuta kata sok lainnya. Kita ingin ben diarani. Hidup yang didominasi oleh perasaan untuk menunjukkan jatidiri.
Kita dikuasai oleh ambisi. Bertumbuh kembang dengan emosi dan hawa nafsu, bukan hidup yang didasari oleh hati nurani.
Kita ibarat ulat nan rakus. Hidup untuk makan, bukannya makan untuk hidup.
Pengalaman, tempaan hidup, dan perjalanan menemukan jatidiri, membuat pikiran kita semakin matang dan dewasa.
Lihatlah saat ulat itu berpuasa. Ia mengasingkan diri dan membungkus rapat tubuhnya di dalam kepongpong. Hingga saatnya tiba, seekor ulat yang berubah bentuk menjadi seekor kupu-kupu yang indah.
Begitu pula seharusnya dengan hidup kita. Hidup itu untuk perubahan, ketika kita berani mengganti makanan bergizi yang semula untuk pertumbuhan jasmani dengan makanan rohani.
Pendewasaan jiwa menuju hidup yang semakin berkualitas. Pribadi rendah hati dan murah hati. Hidup semakin bermakna bagi sesama.
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

