“Zakheus segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu” (Luk 19: 5).
Apa yang terjadi pada diri Zakheus setelah itu? Hidup yang baru. Ia benar-benar bertobat dan telah belajar dari kesalahannya. Ia melihat hikmat Tuhan.
Memulai sesuatu yang baru dengan membawa beban masa lalu itu tidak mudah. Kita sudah maju, tapi cerita masa lalu itu melilit hati. Kita sudah berubah, tapi orang selalu memandang kita tetap ‘sama’. Sehingga yang diceritakan tentang kita tidak berubah. Padahal kita sudah menerima dan menyadari masa lalu itu, tapi ada saja orang di sekitar kita yang tetap tidak menerima. Kita sudah ‘diblok’ dengan tinta hitam.
Jangan takut! Tetaplah teguh hati. Ada kok orang yang benar-benar berubah. Bahkan, hidupnya jadi lebih baik dan dewasa. Hebatnya lagi, orang-orang di sekitarnya memberikan dukungan yang luar biasa. Caranya? Menceritakan perubahan hidupnya, perjuangannya untuk berubah, dan realita yang terjadi sekarang ini.
Kita telah diyakinkan oleh para sahabatnya, bahwa dia sudah berubah dan hidup baru. Jika ada orang yang tidak percaya, yang salah bukan pada pribadi yang sudah berubah itu, melainkan pada orang yang tidak percaya itu.
Begitu pula dengan orang di sekitar Zakheus telah menyaksikan, bagaimana ia berjanji untuk hidup yang baru. Tapi, ada yang meragukannya. Hal itu biasa terjadi. Tinggal sekarang, mana yang hendak diikuti: mengikuti yang mendukung atau yang meragukan? Kita pernah bersalah itu fakta, dan harus diakui. Sekarang yang penting, di mana kita telah belajar dari kesalahan itu untuk melihat hikmat Tuhan.
Ingat, masa lalu itu jangan jadi bayangan yang menakutkan. Lebih bijak kita bergaul dengan banyak pribadi yang berpikir positif dan memberi energi yang positif. Sedangkan yang pikirannya selalu negatif itu lebih baik dimaafkan dan didoakan agar segera menyadari kekeliruannya, dan insyaf.
Rm. Petrus Santoso SCJ

