“Jangan melihat dari hasil capaian seseorang, tapi lihat dari prosesnya untuk mencapai ke puncak itu.”
Realistis. Hal itu yang semestinya disikapi orangtua dalam memberi contoh pada anak-anaknya. Bahwa tidak ada orang yang memperoleh sukses itu secara instan!
Sukses itu butuh semangat juang tinggi, ketekunan, pengorbanan, dan doa agar Allah merestui. Tapi, ketika muncul komplain dari istri, “Lalu usaha keluarga, siapa yang mau meneruskan?”
Saya diam tidak mau mejawab pertanyaan istri, karena percuma dan bakalan memanjang. Jika tidak dijawab juga salah, dan membuat ia tambah penasaran.
Persoalannya, ketika tukar pikiran dengan anak-anak, mereka tidak tertarik untuk meneruskan usaha keluarga. Nunggui toko itu nglangut, dan kurang tantangan! Perubahan zaman itu yang mesti disikapi bijak agar tidak ketinggalan, tapi usaha tetap eksis.
Saya mahfum dan sadar diri. Kita menuju negara ‘go green’ yang ramah lingkungan. Kini ketahanan pangan juga tengah digalakkan dalam menghadapi perubahan iklim. Sehingga peluang usaha itu terbuka lebar bagi orang yang berpandangan jeli.
Jujur, saya tidak mau dipusingi oleh penolakan anak-anak yang tidak mau meneruskan usaha keluarga. Meski saya sudah mengenalkan usaha keluarga pada mereka sejak kecil. Mengajak mereka berkunjung ke para pelanggan maupun pabrik.
Tapi saya menghargai keputusan mereka, jika mereka memutuskan masa depannya sendiri.
Prioritas utama dan penting bagi kami sebagai orangtua adalah membekali dan menyiapkan mereka dengan pendidikan maupun keterampilan agar mereka menjadi pribadi tangguh yang siap untuk berkompetisi dan mandiri.
“Sayang, Mas, jika tidak ada anak yang mau meneruskan. Kita telah merintisnya puluhan tahun…”
“Biarkan anak-anak memutuskan masa depannya sendiri. Kita jangan mencekoki dengan kemudahan dan
kenyamanan yang membuat anak jadi malas. Yang penting, tanggung jawab kita telah selesai membekali mereka dengan pendidikan dan menyiapkan mereka jadi mandiri,” tegas saya sambil menggenggam jemarinya.
Ia memandangku, dan tersenyum tipis.
“Kita bawa dalam doa. Kita percayakan pada penyelenggaraan Allah,” kataku meyakinkan. Ia mengangguk. Kubiarkan kepalanya merebah di bahuku.
Mas Redjo

