“Kita diuji tidak untuk jadi yang terbaik. Tapi yang dituntut adalah kesiapan diri dalam menyikapi peristiwa hidup ini dengan rendah hati dan bijaksana.” – Mas Redjo
…
Ketika sekolah dulu, semula saya berpikir, tujuan dibawai makan oleh Ibu atau diberi uang saku itu untuk bekal sekolah.
Seiring perjalanan waktu, ternyata anggapan itu keliru. Sejatinya bekal sekolah itu bukan makanan atau uang jajan, melainkan ilmu yang harus dipelajari sebagai investasi untuk meraih masa depan yang cerah.
“Jika kita diberi umpan atau kail, mana yang akan dipilih?”
Pilihan dan keputusan kita adalah cerminan kepribadian kita dalam menyikapi peristiwa hidup dengan segala konsekuensinya. Baik atau buruk, rajin atau malas, dan gagal atau sukses dalam perjuangan hidup ini sepenuhnya bergantung pada kita yang menjalani dan memperjuangkannya.
Begitu pula dengan tujuan hidup ini, apa bekal yang hendak diberikan dan diwariskan kepada anak kita?
Setiap insani itu tidak sama antara yang satu dengan yang lain. Mereka mempunyai pandangan dan pikiran berbeda dalam menyikapi dan mewariskan sesuatu pada anak.
Bagi saya pribadi, saya tidak ingin mewariskan perusahaan, harta, atau aset berharga lainnya. Karena semua itu mudah hilang, musnah, dan sia-sia. Apalagi, jika anak itu tidak piawai dalam mengelola dan memanfaatkannya dengan baik serta bijaksana.
Sejatinya setiap anak mempunyai rezeki masing-masing. Kita tidak harus takut dan khawatir, karena Tuhan yang memelihara mereka.
Alangkah bijak, dan jadi prioritas yang utama serta pertama, jika kita mewariskan iman dan ilmu kepada anak.
Dengan iman agar anak memaknai hidupnya dan berguna bagi orang lain. Karena sejatinya, hidup kita adalah saluran berkat Tuhan. Hidup untuk saling memberkati.
Dengan ilmu agar anak memaknai hidupnya dan berguna bagi bangsa serta negara.
Semangat keteladanan itu harus dihidupi dalam keseharian untuk seia sekata agar menyatu dan mendarah daging di tubuh anak.
Sekolah kehidupan, hidup untuk melayani sesama bagi kemuliaan Tuhan.
…
Mas Redjo

