| Red-Joss.com | Seberat dan sesulit apa pun beban hidup ini, bawalah selalu ke dalam doa ikhlas, sehingga persoalan itu terurai. Jalan hidup diluruskan dan hati diteguhkan Allah supaya beban hidup itu menjadi ringan.
“Ya, Allah, Engkau mempunyai rencana yang terindah dan terbaik dalam keluarga saya. Teristimewa untuk Sas yang tengah Engkau godok dalam bejana kasih-Mu,” doa ikhlas itu selalu saya lafalkan, setiap jiwa ini tertekan beban berat agar saya memperoleh jawaban.
Bagaimana tidak tertekan. Tiba-tiba Sas kesulitan uang. Padahal gajinya lebih dari cukup. Kariernya terus menanjak di perusahaan multi nasional. Keanehan lain, karena tempo hari Sas ingin kredit rumah. Tabungannya ke mana dan untuk apa?
Pikiran saya buntu-sebuntunya. Sas cerita ditipu mantan bosnya. Dulu ia mengaku kalah berjudi online. Lalu mengaku terjerat pinjol. Mana yang benar?
“Bapak mau membantumu, Le, asal kau jujur,” kata saya lembut sambil menatap matanya untuk melihat kebenarannya. Sas keukeh, bahwa ditipu, judi, dan pinjol itu semuanya benar.
Saya terhenyak dalam keraguan. Mencoba merenungkannya. Istri mengerjapkan matanya agar saya mengalah dan membantu Sas. Istri lemah hati, karena tiap hari direngeki.
Karena keseringan minta ditalangi hutangnya, saya jengkel dan marah pada Sas. Mau bersikap keras, tapi istri melarang. Padahal saya ingin agar Sas bersikap terus terang dan jujur.
Saya ragu-ragunya, Sas terpuruk karena tertipu, judi, dan pinjol. Tiba-tiba saya ingat homili Romo Minggu pagi ini, kita diajak untuk memeluk orang yang terpuruk, papa, dan terpinggirkan itu dengan tindakan kasih dan doa.
Masalah Sas lalu saya bawa ke dalam doa, untuk berserah ikhlas pada kehendak Allah. Karena rencana dan kehendak-Nya yang terbaik untuk kita semua.
Keanehan demi keanehan terjadi. Saya ingat pacar Sas yang dulu, jika diputus minta ganti rugi materi. Ketika Sas menggunakan kartu ATM saya, 2 kali gagal meski nomor pinnya benar. Sedang sewaktu dipakai istri membayar belanja di xxxxmart tidak masalah alias lancar jaya.
“Le, kejadian kau gagal transfer itu bukan suatu kebetulan, nyatanya Ibu tidak ada masalah. Kejadian itu sebagai peringatan agar kau jujur,” kata saya mengingatkan. “Allah mengasihimu, Le.”
“Saya harus ngomong apalagi, Be,” tandas Sas mencoba menghindar, dan kurang senang.
“Orang biasa berbohong itu hidup tidak tenang. Jiwa ini tidak damai,” saya menghela nafas panjang untuk menenangkan diri, dan sabar.
Sas menunduk, gelisah.
“Semalam Babe bermimpi kau ada masalah dengan pacar lamamu. Kau masih hubungan dengannya,” pancing saya. “Kau hutang untuk kredit rumah? Atau kau membantu keluarganya?”
“Sudalah! Babe mau menolong atau tidak?”
Saya terhenyak. Bersalah, tapi tidak sadar diri untuk merendah, dan meminta maaf, sebaliknya Sas malah marah. Sas malu, karena ditelanjangi tetap berpacaran. Padahal Sas mengaku telah putus hubungan. Sas gengsi, tertekan, dan…?
Kesabaran saya diuji. Saya coba menenangkan diri, mengalah, dan merangkul dalam tindakan kasih.
“Saya serahkan Sas dalam penyelenggaraan-Mu, ya, Allah. Engkau selalu memberi yang terbaik untuk umat-Mu.”
…
Mas Redjo
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

