Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Di atas bukit batu karang ini, Aku akan mendirikan gereja-Ku.”
| Red-Joss.com | Saudara, statemen maha dasyat ini, telah berabad-abad dilontarkan. Ada pun statemen ini, baik ditinjau secara kronologi historis, juga secara rohani spiritual, memang sarat mengandung kebenaran iman.
Pada suatu kesempatan, ada beberapa orang peziarah yang sangat mengagumi kemegahan sebuah taman yang di dalamnya dibangun berjejer sejumlah rumah ibadah dari berbagai agama.
Para pengagum itu pun terkesima pada nilai-nilai artistik dan estetika keindahan ornamen bangunan-bangunan itu.
Tidak berapa lama berselang, sang ketua rombongan ziarah itu pun menanggapi sikap kagum para rekannya.
“Hai, para saudaraku, memang benar, kita semua mengagumi akan kemegahan bangunan rumah-rumah ibadah ini. Tapi, sesungguhnya, apa yang tampak menjulang megah agung di hadapan kita ini, hanyalah suatu ekspresi dari inti iman kepercayaan kita.
Inilah ekspresi dari tanda kepedulian masyarakat bangsa kita sebagai ungkapan iman serta keberagamaan mereka.โ
โIni bukan tujuan utama dari keberagamaan kita. Ini hanyalah bangunan fisik. Sejatinya, hal yang paling esensial serta fundamental adalah bangunan rohani yang disusun dari batu-batu hidup,” lanjutnya.
Saat mendengar tuturan bermakna dari sang ketua rombongan itu, beberapa peziarah manggut-manggut, tanda kagum akan isi serta makna sesungguhnya.
Saudaraku, sejatinya, kita adalah sang ‘bebatu hidup’ itu. “Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani.” (1 Ptr. 2:5).
Jadi, sesungguhnya, Anda dan saya, kita inilah sang bebatu hidup itu. Kitalah sang fondasi yang mahakokoh dan mahadasyat yang tidak tergoyahkan oleh goncangan apa pun di bumi ini. Kitalah sang bebatu besar itu sebagai batu penjuru. Kita inilah bangunan rohani sejati.
Lewat tulisan kecil ini, kita diajak untuk memahami akan makna sejati dari ‘batu-batu hidup serta bangunan rohani’ itu. Bangunan rohani yang tidak akan dikalahkan oleh dasyatnya goncangan alam maut sekalipun.
Mari kita hidup bersama serta berdampingan, sebagai sesama anak bangsa yang tekun serta teguh di dalam beriman. Aneka bangunan fisik rumah ibadah itu adalah saksi bisu hidup keberagamaan kita.
Semoga, kita pun cerdas dan cermat dalam memilih dan memilah, mana esensi terdalam sebagai ekspresi iman kita, serta mana, yang sebetulnya, hanyalah pembungkusnya.
…
Kediri, 30 Mei 2023
…
Foto ilustrator: Istimewa

