Karena itu berdoalah demikian: “Bapa kami yang di Surga, Dikuduskanlah nama-Mu” (Mat 6: 9).
Dalam Injil, Yesus mengingatkan, bahwa doa bukanlah mantra untuk memaksa Allah mengikuti kehendak kita. Melalui doa Bapa Kami, Ia mengajar para murid bagaimana berdoa. Yesus mengajak kita menyapa Allah sebagai Bapa, Abba, dan berbagi martabat sebagai anak Allah bersama-Nya.
Doa ini juga memiliki dimensi kebersamaan: ‘Bapa kami’. Dengan demikian, Yesus menyingkapkan, bahwa orang lain pun memiliki tempat di hadapan Allah. Baik mereka yang hidup dengan hati yang tertutup, yang sengaja menjauh dari Allah, maupun yang menimbulkan perpecahan, mereka tetap adalah anak-anak Allah, saudara dan saudari kita. Allah dengan kasih yang tidak terbatas merangkul semua orang ke dalam keluarga-Nya. Oleh karena itu, marilah kita memohon agar Allah meluaskan hati kita, menghancurkan tembok egoisme, dan menumbuhkan kepekaan terhadap sesama. Setiap tatapan penuh kasih dan senyuman yang kita bagikan, sesungguhnya adalah ungkapan nyata untuk memuliakan nama Allah.
Fr. Anton, CSE
Selasa, 24 Februari 2026
Yes 55: 10-11 Mzm 34: 4-7.16-19 Mat 6: 7-15
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

