| Red-Joss.com | Kita tentu pernah mengeluh. Karena mengeluh itu manusiawi. Mengeluh tentang masakan yang keasinan atau kemanisan, udara panas sekali, anak kecanduan main game, pekerjaan menumpuk, rekan kerja menyebalkan, dan seterusnya. Kita mengeluh, dan … selalu mengeluh.
Sesekali mengeluh itu boleh dan wajar. Tapi tidak untuk dijadikan alasan mengeluh. Jika mengeluh jadi kebiasaan itu yang membuat kita repot.
Sadari, ketika kita mudah sekali mengeluh, hal itu membuat tubuh ini jadi melemah dan tidak sehat. Ibarat kita makan makanan ‘junk food’, sekali-kali itu boleh. Jika setiap hari dan setiap waktu makan itu pasti tidak sehat. Begitu pula kebiasaan mengeluh itu jadi habitus. Hal buruk yang harus disikapi dengan bijak.
Belajar untuk bersabar, menerima dan beradaptasi dengan realitas. Meski banyak hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Hidup ini lebih bahagia, bila kita mudah beradaptasi dan bersyukur. Keluhan itu cenderung untuk menyalahkan, sedang menerima dan beradaptasi itu menumbuhkan kesabaran dalam hati.
Bersyukurlah. Ganti keluhan itu dengan mudah bersyukur yang banyak manfaatnya. Mengeluh itu menutup rezeki, sedang bersyukur itu membuka rezeki. Orang yang mudah bersyukur itu berkelimpahan berkat, rezeki, dan anugerah. Bahkan Tuhan memberi berlimpah sukacita.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

