Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Corruptissima Republica, Plurimae Leges”
“Kian Korup Sebuah Republik, kian Banyak Undang-undang”
(Publius Kornelius Tacitus)
Realitas Menantang
Sungguh menyayat nurani manusia, karena kini dunia memang nyata, sedang bergumul menghadapi ‘aneka jenis banjir’ di dalam kehidupan riil.
Ya, nyata, bahwa ada banjir air mata duka, banjir cercaan, banjir kemiskinan, banjir bandang, dan juga ada banjir korupsi.
Tentang Banjir Korupsi
Tajuk Rencana Kompas, (22/1/2026), adalah keprihatinan, mengapa kasus korupsi pejabat daerah dan pusat melalui operasi tangkap tangan (OTT) KPK terus berulang. Wali kota Madiun, Maudi yang gencar siap memberantas korupsi saat kampanye justru jadi pelaku. Bupati Pati, Sudewo yang didemo akibat kasus pajak, penyelesaian kasusnya belum jelas. Wilayah dan warganya sekarang terendam banjir. Alih-alih berduka, warga Pati, melalui Aliansi Masyarakat Pati Bersatu berpesta menyalakan kembang api dan tumpengan merayakan Bupatinya ditangkap KPK. Demikian isi tulisan Yes Sugimo, dalam kolom Opini, Surat kepada Redaksi, Kompas, Jumat, (30/1/2026).
Lain di Bibir, Lain pula di Hati
Ya, inilah realitas yang menantang nurani suci para anak bangsa yang maaf, sering terjebak dalam keangkuhan yang latah dengan mempertontonkan jubah keagamaannya. Bukankah bangsa kita sudah dikenal sebagai salah satu bangsa yang paling religius di muka bumi ini?
Di sisi yang lain, fakta hidup membuktikan, bahwa sungguh memprihatinkan kondisi kita. Riil pula, bahwa kita ini ibarat “jauh panggang dari api.” Alias ‘nol besar’ dalam praktik hidup bermasyarakat dan berbangsa.
Di Manakah Kesejahteraan Rakyat?
Jika dalam praktik hidup konkret selalu demikian adanya, maka bukankah justru rakyatnya yang akan menanggung beban sebagai akibatnya? Bukankah rakyat itu kian melarat, sedangkan para pemimpin dan pejabatnya justru hidup dalam kemewahan?
Dalam konteks keprihatinan ini, mari kita bersama, berteriak, “Di Manakah Kesejahteraan Rakyat yang Merupakan Hukum Tertinggi?”
Cicero, ahli hukum bangsa Romawi sudah berabad-abad mencetus sebuah diktum, “Salus Populi, Suprema Lex,” bahwa kesejateraan rakyat adalah hukum yang tertinggi?
Di Manakah Keberadaan Para Pemimpin Kita?
Jika ternyata para pelaku korupsi personal pun berjamaah di negeri ini justru dilakoni oleh para pemimpin dan pejabat negara dan daerah, maka di manakah rasa keadilan, moralitas, serta suri teladan dari mereka?
Sungguh tepat, semboyan yang pernah diucapkan oleh Claudianus, bahwa “Componitur Orbis/Regis ad Exemplum” yang artinya, “Dunia memang Menunggu Suri Teladan dari Pemimpinnya.”
Bagaimanakah Ciri Utama Pemimpin yang dapat Diteladani?
Claudianus telah membeberkan, bahwa terdapat “tiga buah keutamaan” sebagai ciri seorang pemimpin yang berkarakter mulia. Antara lain:
- Pemimpin yang sanggup menunjukkan kejujurannya lewat praktik hidupnya, baik kepada rakyat dan kepada Tuhan.
- Pemimpin yang berkomitmen untuk melakukan yang dijanjikannya kepada rakyatnya.
- Pemimpin yang konsisten dan berintegritas.
(Ex Latina Claritas)
Bagaimanakah Realitas di Negeri ini?
Yes Sugimo telah membeberkan, bahwa realitas praktik korupsi di negeri ini terkesan, bahwa para koruptor tidak mau belajar dari kasus-kasus sebelumnya. Jika dulu, lanjutnya, biasanya dilakukan secara personal, namun kini justru berjamaah alias bersama-sama, mulai dari pemimpin tertinggi hingga staf; sepertinya sebagai kamuflase, bahwa korupsi merupakan hal biasa. Bahkan dikatakannya, bahwa saat disorot kamera wajahnya menunjukkan ekspresi yang dingin, biasa saja, tidak menunjukkan rasa sesal dan salah, atau pun malu.
Refleksi
“Errare Humanum est, Perseverare Diabolicum”
“Kesalahan adalah Manusiawi, tapi Mengulang Kesalahan yang Sama adalah Perbuatan Iblis”
(Filsuf Seneca)
Seluruh umat manusia sungguh tahu dan sadar, bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Ibaratnya ‘tak ada gading yang tak retak,’ tapi dalam konteks ini, jika manusia itu adalah ciptaan yang berkehendak baik, maka selayaknya, manusia itu perlu sadar dan menghindari untuk kedua kalinya jatuh ke lubang yang sama.
Bukankah semua jenis banjir adalah bencana?
Kediri, 31 Januari 2026

