“Meski rumah kebanjiran, bahkan termasuk stok barang dagangan, tapi semua itu saya syukuri sebagai anugerah Tuhan.” -Mas Redjo
Jangan ditanya soal rugi, karena sebanyak 2 ton plastik dagangan yang baru dikirim dari pabrik, dan stok di garasi rumah itu kebanjiran.
Menyesal? Tidak! Saya juga tidak menyalahkan keadaan, hujan yang tiada henti, dan seterusnya. Karena saya sadar, banjir 2008 itu datang mendadak dan terbesar selama 25 tahun, menurut tetangga senior yang bermukim di komplek itu.
Dengan bersyukur, saya mencoba melihat hikmat kebijaksanaan yang dianugerahkan Tuhan. Cepat atau lambat, banjir besar bakal terulang lagi, dan hal itu harus diantisipasi. Di antaranya dengan menaikkan rumah atau membeli rumah di dataran tinggi dan jauh dari banjir.
Dengan bersyukur dan ikhlas, saya percaya serta mengimani, bahwa Tuhan mempunyai rencana yang terbaik untuk saya. Sehingga dalam bekerja saya jadi tenang dan tiada beban.
Hasilnya adalah di luar nalar saya. Anugerah Tuhan bagai dicurahkan. Kerugian akibat banjir itu diganti-Nya. Di tahun 2008 terjadi krisis keuangan global dan harga minyak melonjak, sekaligus melambungkan harga plastik.
Sungguh, pengalaman nan pahit itu, jika disyukuri dengan merendah hati untuk berserah dan berharap pada Tuhan, kita tidak dikecewakan-Nya. Karena Ia setia.
Dari peristiwa rumah dan barang dagangan yang kebanjiran itu saya belajar untuk mudah bersyukur, meski dalam situasi berat dan sulit. Juga untuk tidak menyalahkan, menghakimi, dan membalasnya, ketika didholimi orang. Dengan berpikir positif dan berprasaka baik, saya melihat hikmat Tuhan.
Selalu ‘eling lan waspada’, saya dituntut untuk jadi pribadi yang mudah beradaptasi, tangguh, dan dewasa dalam iman.
…
Mas Redjo

