“Setiap kali melihat lukisan Tuhan Yesus yang bangkit dari kubur, saya dinafasi-Nya dengan semangat baru untuk jadi pemenang kehidupan.” -Mas Redjo
…
Untuk yang kesekian kali saya disodori kenyataan pahit. Saya merasa gagal dalam memimpin anak-anak. Karena kurang tegas, saya seakan membiarkan anak salah langkah dan terperosok.
Keteladanan dalam membangun usaha keluarga seperti tidak dilihat dan dirasakan oleh anak-anak. Berdiskusi dan bertukarpikiran dalam keluarga seperti kehilangan ruh dan tanpa makna.
Mengingatkan dengan hati disertai doa ikhlas itu yang saya daraskan pada anak-anak seperti menemui jalan buntu dan mandeg.
Masalah demi masalah itu seperti menggiring saya menuju ujung lorong ketidakberdayaan. Karena di depan saya telah menganga jurang tanpa dasar.
Dari masalah judol, kerja sama bisnis anak yang ditinggal kabur rekannya dengan membawa uang modal, hingga pernikahan beda agama.
Padahal sejak semula saya telah mengingatkan bahaya judol agar anak tidak tergiur ingin kaya secara instan seperti anak tetangga yang jadi korban, stres, dan opname.
Begitu pula saat anak saya yang lain menjalin kerja sama bisnis, karena tergiur untung besar. Anak jadi lengah, dan ditinggal kabur rekan bisnisnya itu tanpa jejak.
Meski sejak awal saya telah mewanti-wanti, bahwa ketimbang join usaha, lebih baik usaha sendiri dari nol. Sukses itu tidak ada yang instan. Tapi dijalani dengan semangat juang tanpa menyerah dan bertekun doa agar diberkati Tuhan.
Kini, fakta yang amat melukai hati saya adalah anak ingin menikah dispensasi! Hal itu konyol, karena selama ini saya mendorong anak untuk aktif di OMK dan Gereja agar memperoleh jodoh yang seiman.
Meski tidak setuju, saya mencoba menjauhi konflik dengan memberi pengertian pada anak untuk dipikir ulang, sebelum terlambat. Menyesal belakangan itu juga tiada guna.
Mendampingi, menguatkan, dan memotivasi anak itu yang saya lakukan setiap mereka mengalami benturan hidup. Meski mereka akui salah dan menyesal, tapi saya tidak menyalahkan dan menghakimi. Sebaliknya saya mengajak anak belajar melihat rencana Tuhan di balik peristiwa itu.
Kini, anak ngotot ingin menikahi pacarnya secara dispensasi. Alasan anak itu yang penting syah. Karena tidak mau berdebat, saya mengajak anak menghadap Romo untuk berkonsultasi. Tujuannya agar anak mampu berpikir jernih dan tidak sekadar menuruti cinta semata.
Di jalan menuju Pasturan, saya mendasarkan doa pada Tuhan Yesus yang menang atas maut. Saya percaya, kebangkitan Tuhan bakal membuka dan memantapkan hati anak saya dalam mengambil keputusan yang terbaik demi kebaikan semua.
…
Mas Redjo

