Red-Joss.com – Maaf! Sekadar bertanya dan ingin tahu, siapa di antara kita yang tertarik untuk jadi Ketua Rukun Tetangga?
Sekali lagi, maaf! Mohon jangan tersinggung. Tapi hal itu wajib dicermati dan dimaklumi agar kita memahami hal yang sebenarnya.
Rukun Tetangga merupakan organisasi kemasyarakatan. Jabatan sebagai ketua itu jelas tidak seprestise, sekeren, atau se’wow’ dengan ketua dewan yang terhormat, direktur, atau profesi lainnya.
Mereka memperoleh gaji yang menggiurkan dan fasilitas menawan. Sebaliknya, Ketua Rukun Tetangga bekerja penuh pengabdian. Bahkan mereka rela berkorban, tidak hanya tenaga dan waktu, tapi juga siap untuk nombok. Alias mengeluarkan uang dari kantong pribadi.
Jadi, tidaklah pantas membanding-bandingkan semua itu.
Alangkah bijak, jika kita memahami dan mendudukkan hal itu pada porsi yang benar.
Sesungguhnya, jabatan Ketua Rukun Tetangga itu melayani warga. Melayani yang timbul dari kesadaran hati untuk memelihara dan melestarikan nilai kehidupan masyarakat berdasarkan gotong royong agar masyarakat guyup dan rukun.
Sekiranya pemilihan Ketua Rukun Tetangga itu tidak diminati, juga hal yang wajar. Karena warga kurang, atau bahkan tidak tertarik untuk dicalonkan, dan dipilih jadi ketuanya.
Banyak faktor yang mempengaruhi hal itu. Di antaranya, tidak banyak warga yang rela menyediakan waktu dan selalu siap dibutuhkan oleh masyarakat. Misal saat terjadi tawuran remaja, mengurus warga yang meninggal dunia pada tengah malam, dan sebagainya.
Tidak jarang pula, susah dan sulitnya menghadapi warga yang tidak mau bekerja, tapi hobi mengkritik, nyinyir, mencela, komplain, dan seterusnya. Sehingga, kesannya lebih banyak duka, ketimbang suka.
Sesungguhnya, jadi Ketua Rukun Tetangga itu kesempatan untuk membangun hidup bermasyarakat agar makin baik. Untuk saling mengenal pribadi yang satu dengan yang lain, dan agar makin akrab.
Sesungguhnya agar sukses jadi Ketua Rukun Tetangga itu dimulai dari tata kelola rumah tangga sendiri. Dibutuhkan keterbukaan hati untuk menyadari perbedaan sikap, bahwa tidak semua saudara sekandung itu miliki sifat yang sama.
Begitu pula dengan pribadi warga masyarakat yang berbeda, baik dalam hal pendidikan warga, suku, beda adat budaya, dan sebagainya. Semua perbedaan itu harus disikapi dengan semangat gotong royong untuk bersatu, guyup, dan rukun.
Dengan mengenali pribadi warga yang satu dengan yang lain, kita dapat mengambil langkah dan tindakan bijak demi kebaikan bersama.
Jadi, tidak perlu takut atau ragu, saat kita dicalonkan dan dipilih sebagai Ketua Rukun Tetangga. Karena, sesungguhnya kemajuan di lingkungan sekitar adalah tanggung jawab kita juga.
…
Mas Redjo

