“Banggakan diri sendiri itu sombong dan sia-sia. Bangga atas karunia kasih Tuhan, kita bijaksana.” – Mas Redjo
…
Membiasakan untuk berefleksi diri itu baik, ketika ditindak-lanjuti untuk komitmen dan konsisten agar kita fokus ke tujuan.
Begitu pula saat saya diingatkan oleh anak, sepulang makan dengan teman-teman. Karena tanpa sadar saya menyebutkan jabatannya di depan mereka.
“Kesannya pamer,” protesnya.
Deg! Saya tidak langsung bereaksi atau menanggapi, tapi refleksi diri. Mengapa saya harus menyebutkan jabatan anak?
“Maaf, Le. Babe keceplosan,” kata saya, tidak enak hati.
Sejatinya, disadari dan disengaja, atau tidak kita pernah melakukan hal itu. Semua itu bergantung pada niat dan tujuan masung-masing, ketika berbincang atau bersosmed.
Bangga atas hasil capaian sendiri atau anggota keluarga itu biasa. Tapi bangga yang berlebihan itu kesannya pamer dan menonjolkan diri dibandingkan dengan yang lain. Benarkah?!
Tidak juga. Faktanya adalah kita mudah berprasangka buruk pada orang lain, dan iri hati.
Berbeda hasilnya, jika kita mau membuang prasangka buruk itu. Kita diajak untuk melihat hal-hal baik dan positif. Tujuannya agar kita terinspirasi dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik dari diri kita.
“Jika orang lain bisa, kita juga pasti bisa.”
Bangga dengan hasil pencapaian diri itu anugerah Tuhan yang harus disyukuri, tapi tidak untuk menepuk dada dan sombong. Sebaliknya, agar kita makin rendah hati.
Sejatinya, tanpa anugerah Tuhan, kita ini bukan siapa-siapa. Karena kita adalah debu di telapak kaki-Nya!
…
Mas Redjo

