Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Menolong sesama, identik dengan menolong diri sendiri.” (Didaktika Hidup)
…
| Red-Joss.com | “Berbahagialah sang jiwa miskin yang merindukan kemanisan setetes madu gurun. Bersukacitalah sang nurani suci yang mekar indah karena ditetesi sang embun kasih!”
“Bahasa Tangan Terulur” adalah simbol seruan teriakan memelas sang jemari pengharapan yang menantikan sang rahmat belas kasihmu.
Ketuklah, maka sehelai daun pintu akan terkuak lebar buat menyahuti rindumu!
Mintalah dalam sendu, maka engkau akan diberi dan mendapatkan kelimpahan!
Jika sesekali kita sempat melintasi sudut-sudut sebuah kota berpenduduk padat, maka tidak jarang, kita akan menyaksikan banyak ‘tangan terulur lapang’ ke angkasa biru.
Mereka yang terpaksa mengulurkan tangan itu adalah kaum miskin papa yang membutuhkan belas kasih. Mereka membutuhkan sepotong hati serta perhatian untuk rela serta ikhlas membantu mereka.
Nasib mereka memang sudah demikian! Mungkin kita akan mengatakan, ‘sang nasib sungguh tidak memihak mereka.’ Mereka sedang tidak beruntung! Atau orang lain lagi akan mengatakan, ‘mereka itu malas berusaha dan bekerja.’ Mungkin juga, ada orang yang mengutuki kehadiran mereka justru sebagai pengganggu keindahan sudut kota.
Tentang hal ini, semua orang sudah seolah-olah memiliki kewenangan untuk memberikan cap spesial kepada kelompok yang bernasib belum beruntung ini.
Dari sudut tinjauan sosial, pun dari makna sila kedua Pancasila, ‘kemanusiaan yang adil dan beradabโ, kita, sudah sepantasnya berani bertanya diri, “Mengapa sampai ada kelompok masyarakat berkelas sosial di bawah standar di negeri kita ini?”
Apa yang menyebabkan hadirnya fakta sosial yang mengenaskan hati dan dada ini? Apa yang sudah salah? Apakah karena sistem sosial serta perekonomian kita yang cenderung kian memiskinkan mereka?
Adalah sebuah fakta sosial, bahwa sudah hadir kaum marginal ini, di sudut negeri kita. Alangkah baik dan mulianya, jika kita memiliki sikap peduli atas uluran ribuan tangan mereka ke angkasa biru?
Saya justru teringat akan amanat dari peristiwa penggandaan roti dan ikan di padang gurun. Ternyata, misteri agung di balik itu adalah, karena adanya sikap belas kasih dan kepedulian.
“Kamu, harus memberi mereka makan” kata Sang Guru Agung kita.
…
Kediri,ย 2ย Novemberย 2023

