Bahasa Senyum, dipertemukan di awal, diulangi lagi saat berjumpa, dan tetap tersenyum saat harus berpisah.
Bahasa Senyum itu tepat untuk mereka yang siap bersahabat, menjalani hidupnya dengan gembira, dan untuk siapa saja yang tidak mudah tersinggung, marah, dan sakit hati.
Bahasa Senyum itu awalnya dipelajari, lalu dihidupi, dan akhirnya bisa dibagikan.
Bahasa Senyum itu harus bisa mengekspresikan dari yang dipikirkan, dirasakan, dan yang tidak mampu lagi dibahasakan. Bahasa Senyum adalah bahasa untuk mereka yang berkomitmen dan ingin hidup bahagia. Karena orang yang bisa Bahasa Senyum itu hidupnya akan selalu ‘fresh. Sebab dia tidak dipusingkan dengan harus menyusun kata-kata. Cukup tersenyum saja.
Macau, 21 Februari 2025
Rm. Petrus Santoso SCJ

