Pada halaman ke 3 buku Kebajikan 2026 saya menuliskan tentang kebajikan kecil, tapi tulus yang sering kali menyentuh hati orang lain dengan cara tidak terduga, menciptakan gelombang kebaikan (efek domino) yang terus berlanjut. Singkatnya, kualitas sebuah tindakan itu ditentukan oleh ‘mengapa’ kita melakukannya, dan bukan pada ‘apa’ yang kita berikan. Kebajikan adalah bahasa kalbu, dan kalbu tidak mengenal ukuran besar atau kecil.
Dengan kata lain, bukan tentang seberapa riuh dunia membicarakan kita, melainkan tentang seberapa teduh jiwa yang kita sentuh. Biarlah kebaikan itu tumbuh dalam diam, karena yang tulus itu tidak pernah butuh panggung untuk jadi bermakna.
Mari, tetaplah bajik, walau sederhana dan tidak ada gema.
Salam sehat.
…
Jlitheng

