Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Sesungguhnya, bola-bola matamu dengan jujur berkata, “Aku sungguh tidak memahami, apa maksudmu.”
(Bahasa Hati Melampaui Nalar)
…
Uniknya Misteri Bahasa
Bahasa, apa itu? Dari bahasa Anda, akan menunjukkan, ‘siapakah Anda?’
Juga ada sebuah ungkapan klasik, bahwa ‘bahasa menunjukkan bangsa’ (Identitas sebuah bangsa).
Dari cara unik seorang berbahasa, maka dia akan dikenal dari mana asal-usulnya. Itulah keunikan bahasa.
Bahkan secara rohani, bahasa dipercaya sebagai sebuah karunia istimewa dari Tuhan yang disematkan ke dalam kesadaran dan mulut manusia.
Di sisi yang lain, bahasa bahkan tidak hanya mengandung makna atau arti dari aspek nalar/kognisi pun logik, namun juga dari aspek rasa, emosi, dan ‘feeling’.
Dari Secarik Daun Jatuh
Mungkin Anda masih sempat mengingat, sebuah kisah interisan, percakapan dialogis antara Nenek dengan Cucu?
MNenek dengan setia menemani Cucu bermain dan bersantai di sebuah taman kota.
Beberapa saat kemudian, Cucu yang berwajah ‘kuyu’ (kusut dan layu), bergegas mendatangi Neneknya.
“Nek, ini ada secarik daun jatuh. Kasihan dia, tergeletak sendirian dan tidak seorang pun peduli kepadanya.”
Nenek itu tampak sangat terharu, dan sambil menunjukkan ekpresi bela rasanya, dicermatinya daun setengah kering nan malang itu.
“Segera Nek, ayo lekatkan kembali dia di dahan itu,” sambil menunjuk dahan dari sebatang pohon.
Dalam kondisi terharu dan terperanjat, Nenek itu berkata, “Cucuku, daun ini telah jatuh dari rantingnya. Karena dia telah mati. Berarti Nenek tidak sanggup untuk memasangnya lagi.”
“Masih ingatkah kamu, ketika kita di suatu hari pernah mengantar jenazah Kakekmu ke kuburan. Bukankah itu karena dia telah mati?”
Kini, tampak bola-bola mata Cucu itu mulai berkaca-kaca.
“Cucuku, segala sesuatu yang telah mati, tidak dapat kembali lagi.”
Tampak pada ekspresi wajah Cucu itu, bahwa dia mulai bisa memahami penjelasan sang Nenek.
(Dari berbagai Sumber)
Misteri Bahasa Hati
Apa itu bahasa hati? Bahasa yang ke luar dari kedalaman ladang nurani seorang yang dicetuskan secara tulus, jujur, dan penuh kasih sayang.
Bukankah sekeping hati itu dapat diidentikan dengan aspek kehalusan, kelembutan, dan anti bohong?
Jika Anda sungguh cermat mengikuti dialog interisan antara Cucu dan Nenek, maka Anda akan lebih mudah untuk menangkap sinyal pemaknaannya. Mengapa Cucu yang baru berusia lima tahun itu ternyata sanggup memahami tuturan sang Nenek?
Karena Nenek itu menggunakan secarik bahasa hati. Dia telah berusaha untuk menghindari sebuah analisis yang bersifat logik dan ilmiah.
Pentingnya Bahasa Hati
Bahasa hati itu sarat dengan aspek persuasif. Ia akan berusaha untuk membujuk merayu lewat kekayaan emosinya.
Maka, sungguh penting jika Anda dan saya memiliki kecerdasan emosional (EQ) yang mampu mengayakan kita dalam hidup dan pergaulan.
Bahasa hati adalah langgam berbahasa yang diucapkan secara spontan, tulus, jujur, dan anti berkamuflase.
Ya, ketika Anda sanggup untuk berbela rasa terhadap sesama, maka di saat itu secara spontan pula Anda akan mengekspresikan bahasa hati itu.
Maka, tradisi untuk selalu ter-‘senyum, me-nyapa, dan me-nyalami’ itu adalah kunci pembuka gerbang nurani untuk berbahasa hati.
“Marilah kita berbahasa secara simpati, empati, serta kasih!”
…
Kediri, 17 November 2024

