| Red-Joss.com | “Peluklah istrimu!”
Itu nasihat sederhana dari seorang teman, ketika hubunganku dengan istri tengah dilanda konflik, bahkan berada pada posisi buruk.
Bagaimana mungkin aku bisa memeluk istri, jika di dalam rumah hubungan suami istri bagai musuh.
Apalagi, aku tidak biasa untuk memberikan pelukan, karena itu bukan caraku memperlihatkan rasa cinta pada istri. Oleh karenanya itu aku memilih untuk mengajak pasanganku bicara dari hati ke hati meskipun selalu berakhir dengan lebih banyak pertengkaran.
“Peluklah istrimu!” Nasihat teman itu kembali menggedor kesadaranku, ketika aku mengikuti sebuah ‘talkshow’ Sabtu lalu dalam rangka memperingati hari kesehatan mental.
Dalam serasehan kesehatan mental itu ada seorang Ibu memaparkan buku Dr. Garry Chapman yang berjudul lima bahasa cinta, yaitu: waktu yang berkualitas, kata pujian, pelayanan, pemberian hadiah, dan sentuhan fisik adalah bahasa kasih yang uniknya berbeda-beda didengar dan dimengerti ungkapannya oleh masing-masing pribadi.
Sesungguhnya sebuah pelayanan yang begitu total akan didengar oleh seorang pasangan sebagai ungkapan kasih, apabila pasangan itu bahasa kasihnya adalah sentuhan fisik.
Dr. Chapman membagikan satu kebenaran sederhana, bahwa suatu hubungan bertumbuh baik, jika kita mau belajar saling memahami bahasa cinta antara pribadi yang satu dengan yang lain.
…
Herry Wibowo

